Headlines News :
purbalingga

Kabar Paling Anyar

Demi Mencegah HIV/AIDS, Sejumlah Pejabat ASN Turut Serta Pemeriksaan HIV/AIDS

Written By Kabare Braling on Thursday, December 8, 2016 | 4:08 PM

PURBALINGGA – Bertempat di Gedung Ardilawet Komplek Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Purbalingg Kamis (8/12) sejumlah pejabat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga melaksanakan kegiatan tes HIV/AIDS.

Satu persatu di antara peserta mulai dari pejabat membaur untuk antre mendapatkan pemeriksaan tes HIV AIDS berupa pengambilan sampel darah untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium kesehatan milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Purbalingga.

Menurut Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Purbalingga Heni Ruslanto menuturkan, bahwa kegiatan pengambilan sampel darah bagi pejabat dan ASN di lingkungan Pemkab Purbalingga merupakan rangkaian peringantan Hari AIDS Sedunia (HAS) Tingkat Kabupaten Purbalingga Tahun 2016. Selain kegiatan seminar dan upacara dalam rangka HAS, kegiatan serupa sudah dilakukan pemeriksaan HIV AIDS bagi anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lingkungan Komando Distrik Militer (Kodim) 0702 Purbalingga sebanyak 205 personil

Dan pada hari ini kami mengambil sampel dari ASN dilingkungan Kabupaten Purbalingga dan kegiatan tersebut juga dalam rangka untuk memberikan edukasi (pendidikan) serta keteladanan masyarakat bahwa tes HIV bukan hal yang menakutkan,”ujar Heni Ruslanto.

Menurut Heni Ruslanto, selama selama ini masyarakat masih ragu untuk melakukan tes HIV/AIDS, sehingga dengan kegiatan yang sudah dilakukan oleh TNI dan ASN tersebut, masyarakat tergerak untuk iktu melaksanak tes tersebut.Harapannya dari kegiatan tersebut, peserta dapat mengetahui negatif serta positifnya hasil pemeriksaan tersebut. Disamping itu, setelah melakukan tes hasilnya postif terkena penyakit tersebut, maka akan dapat melaksanak langkah berikutnya dan dilaksanakan pengobatan serta pencegahan penularan terhadap yang lain.

Karena kita tahu penyakit HIV tidak dapat diobati namun dapat dicegah dengan cara perilaku yang sehat,”jelasnya.

Heni Ruslanto menambahkan, bahwa pihaknya tidak memasang target dari kegiatran tersebut. Karena pada prinsipnya kegiatan itu sukeral dari para peserta. Namun demikian, kegiatan tersebut juga dapat dilakukan berdasarkan mandate/perintah atasan dari pimpinan. Sehingga dengan kegiatan tersebut masyarakat diharapakn tergerak hatinya untuk ikut melaksanakn tes, karena apa yang sudah dilakukan tidak ada masalah, sehingga masyarakat tidak perlu takut.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Kabid P2PL) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga Semedi mengatakan, bahwa kegiatan teresbut merupakan screening HIV. Nantinya dengan tes tersebut akan diketahi hasilnya positif atau negatif, apabila hasilnya positif HIV nanti akan ada tes penagasan lagi.

Tes pengasan tersebut untuk memastikan yang bersangkutran terkena HIV atau tidak. Pada saat tes penegasan tersebut akan dilayani oleh klinik VCT RSUD, karena nanti akan ditanyakan latar belakang dan sebagainya yang berkaitan serta yang bersangkutan bersedia untuk tes penegasn lagi,”jelas Semedi.

Menurutnya, dari hasil tes HIV bagi ASN akan dikoordinasikan dahulu dengan pimpinan, apakah akan langsung disampaikan atau bagaimana, karena hal tersebut menyangkut kerahasiaan para peserta. Sedangkan kegiatan tersebut merupakan permintaan dari Pelaksana Harian (Plh) Plh KPA Kabupaten Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi untuk melaksanakan screening ASN dilingkungan Setda Kabupaten Purbalingga.

Salah satu peserta tes HIV AIDS yang juga kepala DPPKAD Kabupaten Purbalingga Subeno menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang bagus. Birokrat atau ASN harus menjadi contoh bagaimana ikut dan betul-betul mau memeriksakan dirinya terkena HIV atau tidak, sekaligus dalam upaya mendorong masyarakat agar mereka bisa juga mengikuti kegiatan tersebut.

Harapan saya keberadan penyakit HIV AIDS di Purbalingga tidak semakin naik, akan tetapi semakin menurun,”ujarnya.


(Kabare Bralink/Humas)

Darma Wanita pun Dituntut Mengerti dan Paham Akan Visi dan Misi Purbalingga

PURBALINGGA - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Purbalingga menginjak usia yang ke 17. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam rangkaian hari ulang tahun DWP yang ke 17 diantaranya pada 4 Oktober 2016 talkshow bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga yang membahas masalah masih tingginya angka kematian ibu hamil dan melahirkan di Purbalingga. Kemudian 19 November 2016 menyelenggarakan lomba membuat bunga dari barang bekas, selanjutnya 25 November 2016 ikut berpartisipasi pada kegiatan donor darah di Graha Srikandi dan juga kegiatan anjangsana bagi anggota, mantan anggota dan juga masyarakat serta menyerahkan tali asih bagi yang terkena musibah dan juga kegiatan-kegiatan lainnya.

Sebagai puncak acara digelar resepsi HUT DWP di Pendapa Dipokusumo sekaligus memberikan santunan pendidikan bagi anak usia SD sebanyak 30 anak berupa alat sekolah dan sejumlah uang bagi masing-masing anak dan juga pemberian hadiah bagi para pemenang lomba yang diadakan dalam rangka HUT DWP. Hal itu dikatakan Ketua DWP Kabupaten Purbalingga Irma SY. Wahyu Kontardi, saat membacakan laporan penyelenggaraan kegiatan resepsi di Pendapa Dipokusumo, Rabu siang (07/12).

Bupati Purbalingga Tasdi, dalam sambutannya meminta kepada seluruh anggota DWP Kabupaten Purbalingga untuk mengerti dan memahami visi misi program kerja Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Purbalingga yang tercantum dalam RPJMD 2016-2021.

Ada 7 misi yang harus dipahami betul oleh anggota DWP, dan selalu mendukung suaminya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang profesional, yaitu punya knowledge, skill dan attitude yang bagus,” kata Bupati Tasdi.

Anggota DWP, lanjut Bupati Tasdi, juga diharapkan untuk ikut serta berkontribusi mewujudkan tujuan pembangunan Kabupaten Purbalingga dalam misi selanjutnya yaitu mendorong masyarakat Purbalingga menjadi masyarakat religius dan berwawasan kebangsaan. Kemudian membangun sumber daya manusia Purbalingga melalui peningkatan derajat pendidikan dan kesehatan, dan juga membangun ekonomi kerakyatan diantaranya adalah mengembangkan produk asli Purbalingga.

Karena produk Purbalingga kalau bukan kita yang mengembangkan terus mau siapa lagi?” kata Bupati Tasdi.

Bupati Tasdi juga menambahkan, sistematika pembangunan Purbalingga harus disengkuyung semua pihak karena Pemerintahan akan berjalan apabila mesin penggeraknya yaitu ASN saling bahu membahu sesuai kompetensinya masing-masing secara maksimal dan sebagai anggota DWP wajib memotivasi para suami untuk terus bersemangat dalam melaksanakan tugasnya.


Saya mohon maaf kepada ibu-ibu anggota DWP, karena kemarin para suami harus bekerja ekstra keras demi mengejar target Pembangunan di tahun 2016 ini. Nantinya tahun 2017, harus lebih sabar, karena percepatan pembangunan akan lebih terasa. Selagi ada kesempatan, mari kita berbuat untuk kemajuan Purballingga,” kata Bupati Tasdi.

(Kabare Bralink/Humas)

Lalu, Seperti Apa Purbalingga dengan Smart City?

Written By Kabare Braling on Wednesday, December 7, 2016 | 1:08 PM

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Tasdi berkomitmen mewujudkan konsep Smart City di kabupaten Purbalingga paling tidak dalam kurun waktu tiga tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi. Hal itu diungkapkan Bupati saat melakukan study banding penerapan smart city di Kota Bandung Jawa Barat.

Tahun pertama dan kedua kita harus menyelesaikan infrastruktur. Baru nanti pada tahun ketiga kita gerakan untuk bagaimana meningkatkan pelayanan masyarakat dengan mengembangkan konsep smart city,” ujar Bupati Tasdi usai mengunjungi Bandung Command Center, Selasa (6/12).

Komitmen Bupati untuk menerapkan konsep smart city di kabupaten Purbalingga terlihat saat dirinya melakukan kunjungan studi banding bersama kalangan media yang bertugas di Purbalingga. Rombongan Bupati yang didampingi asisten administrasi Gunarto dan Kabag Humas Rusmo Purnomo, diterima oleh Staf Ahli Walikota Bandung Bidang Perekonomian Keuangan Daerah dan Investasi, Dadang Gantina.

Usai menerima paparan pengembangan konsep smart city, Bupati Tasdi bersama rombongan melihat dari dekat pusat kendali kota Bandung di ruangan canggih Bandung Command Center yang berlokasi di area Balaikota.

Menurut Bupati, meski membutuhkan anggaran yang sangat besar namun penerapan konsep smart city harus segera dilakukan. Menurut Bupati, penerapan teknologi informasi dalam pelaksanaan smart city diyakini mampu meningkatakan pelayanan publik menjadi lebih efisien, sekaligus akan menghemat anggaran pelaksanaan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

Nanti kita anggarkan Rp 55 miliar untuk mengembangkan ini (command center-red). Ya kita siap menerima hibah penerapan aplikasi dari Bandung,” tandasnya.

Staf Ahli Walikota Bandung Bidang Perekonomian Keuangan Daerah dan Investasi, Dadang Gantina menuturkan, Bandung Command Center dibangun pada 2014 dengan biaya Rp 27 miliar ditambah Rp 3 miliar untuk tambahan kekurangan fitur yang dibutuhkan. Dana tersebut belum termasuk biaya bandwidth yang mencapai Rp 7 miliar setaun , biaya aplikasi dan operator.

Saat ini kami memiliki 350 aplikasi dari target 1000 lebih aplikasi. 13 aplikasi diantaranya dapat dihibahkan untuk kabupaten/kota yang membutuhkan,” jelasnya.

Dijelaskan Dadang, ruang kendali BCC didukung oleh berbagai fasilitas seperti Global Positioning System (GPS) Tracking dan Closed Circuit Television (CCTV) yang dipasang di daerah rawan pelanggaran lalu lintas, kriminalitas dan bencana. BCC ini, lanjut Dadang juga menjadi pusat data dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sehingga kebutuhan data untuk pengambilan kebijakan menjadi semakin cepat dan mudah.

Misalnya untuk pengurusan perijinan dengan sms (short massage service-red), sms nomor antian RSUD dan pembuatan KTP Disdukcapil, lapor keluhan warga, e-buggeting dan lainnya. Semua kegiatan OPD dan keluhan warga dapat dipantau dari command center ini,” jelasnya.

Adanya command center, lanjutnya, mampu membawa perubahan sangat banyak terhadap system pelayanan bagi masyarakat Kota Bandung, hingga mampu mewujudkan tingkat kebahagiaan masyarakat tertinggi di Indonesia.


(Kabare Bralink/Humas)

PTA-2 Sukses Besar Hingga Menyedot 2.500 Peserta

PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Tasdi memberikan apresiasi kepada penyelenggara Purbalingga Trail Adventure PTA#2 2016 yang dihelat Minggu (4/12) di kawasan Obyek Wisata Alam Goa Lawa desa Siwarak Kecamatan Karangreja. Kegiatan pehobi trabas yang diikuti 2500 peserta mampu memberikan manfaat bagi promosi pariwisata di kabupaten Purbalingga.

Saya menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan acara ini. Tahun depan kita buat lebih meriah lagi,” kata Tasdi saat mengundi hadiah seekor sapi yang khusus disumbangkan untuk kegiatan tersebut.

Event trabas yang telah diadakan kali kedua ini dilepas oleh Bupati Tasdi, Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, Ketua Tim Penggerak PKK Erni Widyawati Tasdi dan Wakil Ketua DPRD Adi Yuwono. Acara itu juga dihadiri istri Gubernur Jawa Tengah Atiqoh Ganjar Pranowo. Kegiatan itu juga ditandai dengan penanaman pohon di komplek wisata Goa Lawa.

Menurut Tasdi, kegiatan yang digagas para pehobi motor trail ini sangat mendukung promosi pariwisata khususnya wisata Goa Lawa yang akan dikembangkan menjadi obyek wisata bertaraf internasional. Menurutnya, Purbalingga memiliki potensi Goa Lawa yang harus diketahui bukan saja oleh orang diluar Jawa bahkan hingga tingkat nasional.

Selain sebagai ajang silaturahmi pecinta trabas, ini menjadi sarana yang dapat membuat peserta PTA untuk kembali berkunjung ke obyek-obyek wisata di Purbalingga,” jelasnya.

Ketua Panitia PTA#2 Sukamto menuturkan trabas jelajah wisata Goa Lawa tahun kedua ini diikuti 2500 peserta dari berbagai kota di nusantara. Diakui antusias peserta sangat tinggi hingga pihak panitia kewalaan. Awalnya pihak panitia hanya menyediakan 1700 kostum yang sudah terjual pada H-1.

Untuk penyelenggaraan ini memang misinya, pertama untuk mengayubagyo hari jadi Purbalingga, untuk promosi pariwisata dan hasilnya untuk kegiatan sosial warga sekitar,” katanya.

Pihaknya berterimakasih atas dukungan Bupati dan jajarannya. Dia berharap kegiatan ini akan semakin besar di tahun mendatang.


(Kabare Bralink/Humas)

Parade Seni Hadir di Bakal Wisata Desa Bokol, Hingga Istri Gubernur Turut Meramaikan

Written By Kabare Braling on Tuesday, December 6, 2016 | 10:10 AM

PURBALINGGA – Bakal wisata Desa Bokol, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga, Minggu (4/12) menyuguhkan berbagai atraksi seni kontemporer di areal persawahan di kompleks sanggar ‘Darimu’. Atraksi seni bertajuk ‘Darimu Karya Kita #3’ menampilkan Chune ‘Presiden Pelukis Purbalingga’, Ki dalang Tejo Asmoro, Mona Julia ‘Julia Dance’, dan Dwi Nugroho yang juga pengelola Sanggar Darimu. Acara tersebut dibuka oleh Bupati Purbalingga Tasdi.

Suasana pementasan musik itu makin meriah dengan kehadiran istri Gubernur Jawa Tengah Siti Atikoh Supriyati, serta wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi. Rombongan juga sempat menikmati makan siang makanan khas desa Bokol di angkringan ‘Mamake’ yang dikelola Sanggar Darimu.

Penampilan musik reage menyambut kedatangan Bupati Tasdi beserta rombongan. Sejurus kemudian, ‘Presiden Pelukis Purbalingga’ Chune beraksi ddengan menggambar diatas kain putih yang terbentang di persawahan. Chune mengambil tema,

'Dari Tanah Kembali ke Tanah’. Sebelum menggambar, Chune seperti membacakan puisi tentang hidup seorang yang akhirnya akan kembali ke tanah. Dalam lukisan menggunakan tangan kosong itu, Chune seperti menggambarkan kehidupan seseorang mulai dari saat bayi hingga menjadi orang dewasa dan akhirnya meninggal kembali ke tanah. Tak butuh waktu lama, kreasi Chune sudah bisa dilihat oleh penonton yang hadir.

Ki Dalang Tejo Asmoro sebelum membawakan lakon wayang monolog ‘Surya Putra Galau’, juga mengupas filosofi kehidupan melalui. Kehidupan manusia di dunia tidak berarti jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Apa yang dimiliki di dunia, akhirnya kembali ke tanah. Harta benda, kekayaan, jabatan, semua tidak akan berarti apa-apa ketika manusia meninggal dunia.

Semuanya kembali ke tanah, hanya kebaikan,dan amal ibadah selama di dunia yang dibawa,” ungkap Tejo Asmoro yang memiliki nama asli Sutejo.

Mona Julia Dance ikut mempercantik penampilan wayang molog dan sesi lagu reage yang disuguhkan Dwi Nugroho. Sesekali pula ditingkahi dengan permainan rakyat egrang.

Bupati Tasdi dalam kesempatan itu memuji kiprah Dwi Nugroho yang mengembangkan sanggarnya sebagai tempat belajar seni bagi siapapun yang mau belajar. Selain itu, kiprah Dwi yang pernah menjadi terbaik II pemuda pelopor tingkat Jateng kategori seni budaya dan wisata, juga mampu menggerakan desa wisata berbasis seni budaya di wilayah selatan Purbalingga.

Pemkab Purbalingga sangat mengapresiasi kegiatan sanggar Darimu. Pemkab melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) akan terus mendorong tumbuhnya seni budaya dan pariwisata di berbagai wilayah Purbalingga,” kata Tasdi.

Tasdi juga membanggakan, bakal wisata Bokol sudah dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dari Belanda dan Thailand beberapa waktu lalu. 

“Purbalingga terus berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata, termasuk desa-desa wisata. Ini tentunya sejalan dengan kebijakan pemerintah Jokowi dan kebijakan pemprov Jateng yang terus memacu perkembangan sektor pariwisata,” kata Tasdi.

Di bagian lain, di sela-sela menikmati angkringan Mamake, Bupati Tasdi juga memuji suasana makan yang asri ditengah areal persawahan. Makanan khas yang disuguhkan seperti ayam goreng, tempe goreng, sayur jantung pisang, dan sayur lompong yang dipadu sambel khas desa, serta minuman es badeg, membuat Bupati Tasdi puas.

Nanti kapan-kapan saya pengin menggelar rapat disini, sambil menikmati suasana desa dan makanan yang khas,” ujar Tasdi.

Hal yang sama juga disampaikan istri gubernur Jateng, Siti Atikoh Supriyati. Atikoh yang asli Purbalingga mengaku puas setelah menikmati angkringan Mamake.

Semuanya serba khas desa dan enak untuk dinikmati,” ujarnya.


(Kabare Bralink/Humas)

Purbalingga Patut Dicontoh! Gelar Doa Bersama untuk Aksi Damai #212 Bersama 5 Pemuka Agama

Written By Kabare Braling on Friday, December 2, 2016 | 4:22 PM

PURBALINGGA - Aksi damai Nasional yang dilaksanakan pada 02 Desember 2016 di Monumen Nasional Jakarta mendapat perhatian dari seluruh masyarakat Indonesia tidak terkecuali masyarakat Kabupaten Purbalingga. Untuk mendoakan aksi damai berjalan lancar dan baik, Bupati Purbalingga, Wakil Bupati Purbalingga beserta seluruh komponen masyarakat Purbalingga menggelar do’a bersama di Pendapa Dipokusumo, Jumat malam (01/12).

Kegiatan doa bersama mendapatkan apresiasi dari Bupati Tasdi, karena seluruh masyarakat Purbalingga dari berbagai elemen masyarakat hadir bersama-sama memanjatkan doa yang dipimpin 5 pemuka agama di Purbalingga.

Hal ini membuktikan, bahwa di Purbalingga tetap damai dan kondusif, tidak ada perselisihan antar dan inter agama, suku dan etnis,” kata Bupati Tasdi.

Bupati Tasdi juga menyampaikan terima kasih kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat di Purbalingga, atas kontribusinya memberikan saran dan masukan dalam menjaga kondusifitas Purbalingga dari keberagaman masyarakatnya, tetapi tetap selalu menjaga kerukunan.

Terima kasih atas silaturahmi yang baik antara para tokoh agama dan tokoh masyarakat di Purbalingga, karena para tokoh telah dapat dijadikan panutan dalam menjaga toleransi dan saling menghormati, sehingga masyarakat Purbalingga tetap damai dan aman,” lanjut Bupati Tasdi.

Dari Agama Kristen Protestan, doa bersama dipimpin Pendeta Slamet. Dari Katholik Pendeta Ari Subroto yang mewakili Romo Agung Setiawan, kemudian dari Khonghucu doa dipimpin Cece Rohyana, dan dari Islam doa dipimpin oleh KH. Abror Musodiq.

Dalam doanya, ke 5 pemuka agama di Purbalingga memohon agar kebhinekaan yang ada di Purbalingga tetap terjaga kedamaiannya, saling menjaga sikap toleransi, saling percaya, saling menghormati, saling memaafkan dan dihindarkan dari perselisihan yang mengganggu kedamaian Purbalingga, mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan masyarakatnya tetap berpegang teguh pada konstitusi NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.


(Kabare Bralink/Humas)

Biro Wisata kini Mulai Melirik Destinasi Wisata di Purbalingga

PURBALINGGA – Pasca digelar famtrip bagi biro wisata ke sejumlah desa wisata, pertengahan November lalu, sejumlah biro wisata mulai intens memasarkan paket wisata kunjungan kedesa wisata di Purbalingga. Bahkan, dalam waktu dekat ini, sudah ada 80 wisatawan dari Brebes yang akan mengikuti paket wisata di Desa Panusupan dan sekaligus tingga di desa tersebut selama dua hari.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si yang dihubungi di ruang kerjanya, Kamis (1/12) mengatakan, kegiatan famtrip bagi biro wisata merupakan salah satu cara pemasaran wisata yang langsung kepada pembeli. Para pengelola biro wisata ini secara tidak langsung akan menjual paket wisata yang telah dicobanya.

Mereka tentunya akan meyakinkan calon wisatawan, ketika mereka juga sudah mencobanya. Kenangan yang memuaskan selama mengikuti kegiatan famtrip, menjadi kunci untuk memasarkan paket wisata yang ada,” kata Prayitno.


Prayitno mengaku, biro wisata dari Padang Sumatera Barat yang mengikuti famtrip pekan lalu, langsung merespon dengan rencana kunjungan rombongan wisatawan dari Sumatera Barat. Wisatawan dari Sumatera Barat, ternyata senang bisa berwisata ke Jawa, termasuk ke sejumlah tempat di Purbalingga.

Mereka sudah melakukan kontak langsung dengan pengelola desa Panusupan, dan beberapa desa wisata lainnya untuk membawa rombongan ke Purbalingga,” kata Prayitno.

Secara terpisah, Hairani Tarigan, SE, MM dari PT Kembang Wisata Tour and Travel Bekasi Jawa Barat melalui pesan Whatsapp mengungkapkan, dirinya tergerak untuk menjual paket wisata kunjungan ke desa-desa wisata di Purbalingga setelah mencoba langsung paket wisata yang dicobanya saat mengikuti famtrip pekan lalu.

Ternyata, Purbalingga, meski kota kecil menyimpan daya tarik yang sangat bagus. Sebelum datang untuk pertama kali ke Purbalingga ini, yang ada dalam bayangan saya, Purbalingga kotanya panas. Ternyata, setelah datang, kotanya sejuk, karena berada di kaki Gunung Slamet. Desa-desa wisatanya juga sudah terbangun rapi. Saya tidak tahu, siapa yang mampu menggerakkan para pelaku di desa wisata ini. Semuanya pelayanannya sangat ramah, dan tidak mengecewakan. Ini menjadi modal saya untuk meyakinkan relasi langganan kami yang selama ini lebih sering memilih datang ke desa wisata di Yogyakarta,” kata Hairani yang juga managing director PT Diva Convexindo Bekasi.


Hairani optimis, relasinya akan banyak datang ke Purbalingga, karena transportasi dari Jakarta, bisa dicapai dengan mudah menggunakan kereta api.

Sebelumnya yang saya pikirkan, untuk mencapai Purbalingga, harus dengan perjalanan darat yang lama dan melelahkan. Ternyata bisa menggunakan kereta api dan turun di stasiun Purwokerto. Jarak dari stasiun ke Purbalingga, bukan menjadi masalah, masih terbilang dekat, dan yang jelas tidak macet. Saya yakin, apalagi nanti jika bandara sudah dibangun di Purbalingga, semuanya akan dengan mudah dijangkau oleh calon wisatawan,” ujar Hairani.

Doddy Kurniawan dari Rayyan Tours & Travel Cirebon menyampaikan pesan juga, potensi desa-desa wisata Purbalingga sangat layak jual, apalagi saat ini trend pariwisata bergeser ke wisata alternatif. Doddy mengaku selama ini lebih sering membawa rombongan dari Cirebon dan beberapa daerah di Jabar ke Purbalingga untuk menikmati Owabong dan Taman Wisata Purbasari Pancuranmas.

Ternyata, desa wisata di Purbalingga sangat bagus dan cocok untuk kegiatan live in para pelajar langganan kami. Ini segmen pasar baru pariwisata Purbalingga yang harus terus digarap,” ujar Doddy.

Senada dengan Doddy, Pradiyanto Datu Jatmiko, brand manager ‘Yogya Holidays’ Tour and Travel juga mengungkapkan, potensi desa wisata Purbalingga yang sangat memungkinkan untuk pasar wisatawan dari Yogyakarta.

Orang Yogya sudah bosan berwisata ke Yogya dan sekitarnya, apalagi ke Bali. Mereka ingin menikmati wisata yang berbeda dengan lainnya. Mereka ingin menikmati kehidupan masyarakat desa dengan potensi alamnya yang indah. Dan pilihan itu, ada di desa wisata Purbalingga,” ujar Pradiyanto.


(Kabare Bralink/Wisata)

Lakukan Tanggungjawab Bersama untuk Mencegah Virus HIV/AIDS

Written By Kabare Braling on Thursday, December 1, 2016 | 11:59 AM

PURBALINGGA – Di Kabupaten Purbalingga tahun ini atau sampai dengan Bulan Oktober 2016 jumlah penderita penyakit Human Immunodeficieny Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) tercatat sudah ada 54 penderita. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, penderita penyakit tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Hal ini tentunya menjadi keprihatinan bagi kita semua, bahwa tanggungjawab HIV/AIDS bukanlah tanggung jawab personal saja, melainkan menjadi tanggungjawab kita bersama, terutama pencegahan dan penanggulangan menyebarnya virus HIV/AIDS,”ujar Bupati Tasdi saat membacakan sambutan sekaligus menjadi inspektur upacara (irup) Hari AIDS Sedunia Tingkat Kabupaten Purbalingga di halaman Pendapa Dipokusumo, Kamis (1/12) yang dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Dyah Hayuning Pratiwi, pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta diikuti perwakilan dari TNI/Plori juga pimpinan beserta Aparatur Sipil Negara (ASN) Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Menurut Bupati, berdasarkan data dan fakta tersebut sudah cukup bagi semua agar dapat melakukan tindakan reaksioner dan cepat. Selain itu berbagai pendekatan harus dimulai dilakukan agar tidak terjadi dampak yang lebih luas lagi, utamanya melalui pendekatan bidang agama dan sosial budaya.

Disamping itu, kita juga harus memberikan perhatian terhadap generasi muda kita, karena keberhasilan suatu bangsa diawali oleh keberhasilan dalam membina generasi mudanya dan kehancuran suatu bangsa diawali oleh kehancuran generasi mudanya,”ujarnya.

Untuk itu, Bupati mengajak agar semua saling menguatkan komitmen dan melakukan evaluasi terhadap upaya penanggulangan yang telah dilakukan. Karena keberadaan HIV/AIDS laksana fenomena gunung es, kesadaran mereka untukmemeriksakan diri ke medis juga masih rendah karena malu penyakitnya diketahui oleh masyarakat sekitar.

Disadari atau tidak, sebenarnya penyakit HIV/AIDS laksana gunung es, yakni puncaknya saja yang terlihat, namun sebenarnya masih banyak penderita yang masih belum mempunyai kesadaran untuk memeriksakanpenyakitnya kepada psikolog atau medis atau mungkinmalu takut penyakitnya ketahuan oleh orang lain, sehingga akan dikucilkan oleh lingkungan masyarakat sekitar,”jelasnya.

Bupati menambahkan, bahwa orang yang terkena HIV/AIDS (ODHA) bukanlah orang yang harus dijahi dari pergaulan hidup bermasyarakat. Orang yang terkena penyakit tersebut harus diperlakukan sebagaimana mestinya, karena mereka yang terjakngit virus tersebut bisa dikarenakan tertular orang yang positif terkena melalui media lain.

Untuk itulah, dalam memperlakukan orang yang terkena HIV/AIDS bukan orangnya yang harus dijauhi, namun virus serta penyakitnya yang harus kita jauhi,”pintanya.

Melalui peringatan Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember tersebut, Bupati mengingatkan agar lebih ber,hati-hati bahwa penyakit tersebut sangat berbahaya dan sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Oleh sebab itu jangan mencoba untuk mendekati dengan penyakit tersebut, apalagi untuk mencobanya, ujar Bupati.


(Kabare Bralink/Humas)

'Prasanti Laras' dari SMPN 3 Bobotsari Tampil Memukau dalam Pentas Uyon-uyon


PURBALINGGA – Bertempat di Pendapa Dipokusumo, Rabu malam (30/11) Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi beserta pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga serta tamu undangan dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Se-Kabupaten Purbalingga menikmati kegaiatan rutin bulanan pentas kesenian uyon-uyon.

Berbagai tari tradisional, tembang-tembang karawitan Jawa dan gending-gending atau musik gamelan dimainkan dengan penuh semangat oleh para siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Bobotsari yang tergabung dalam grup kesenian karawitan 'Prasanti Laras' di hadapan para tamu undangan. Bahkan anak-anak asuhan Kepala Sekolah SMPN 3 Bobotsari Eni Rundiati yang pernah menyabet juara harapan tiga lomba Pekan Seni Tingkat SMP Se-Kabupaten Purbalingga mendapat apresiasi dari Wabup.

Prasanti Laras dari SMPN 3 Bobotsari merupakan juara harapan tiga pecan seni tingkat SMP Se-Kabupaten Purbalingga dan ini merupakan cerminan bahwa SMPN 3 Bobotsari telah suskes dan berhasil melakukan pembinaan seni dan budaya kepada anak didiknya. Hal itu tercermin dengan diraihnya lomba tersebut,”tutur Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi.

Untuk itu, sambung Wabup, pihaknya mengapresiasi pihak sekolah khususnya pihak SMPN 3 Bobotsari yang selama ini melakukan pembinaan seni budaya lokal di sekolah tersebut.Sehingga budaya lokal disekolah tetap terjaga serta diminta agar dipertahankan.

Saya apresiasi kepada pihak sekolah yang sudah melakukan pembinaan seni budaya lokal khsusnya karawitan, sehingga sampai hari ini tradisi lokal atau budaya karawitan senatiasa terjaga. Dengan diraihnya penghargaan tersebut saya minta untuk dipertahankan,”pintanya.

Menurut Wakil Bupati Purbalingga, saat ini masyarakat dihadapkan pada zaman globalisasi atau digitalisasi. Di zaman tersebut berbagai perkembangan kemajuan teknologi luar biasa pesatnya dan hal tersebut memberikan dampak positif dan negatif

Dampak positifnya, masyarakat dapat mencari berbagai informasi dari teknologi tersebut, kita mau mencari informaasi tentang ini dan itu berbagai hal tinggal klik saja atau googling saja. Sedangkan dampak negatifnya seluruh informasi dari belahan dunia luar dengan mudah masuk mana saja. Termasuk juga semua informasi seni budaya dari luar. Hal tersebut dapat masuk memberikan dampak negatif apabila kita tidak mempunyai pondasi yang kokoh maka ini akan mengikis kebudayaan tradisional kita,”ujarnya.

Dampak tersebut, kata Wabup saat ini sudah mulai terlihat, seperti anak-anak sekolah sekarang apabila ditanya musik favoritnya maka jawabnya bukan musik tradisional namun lebih mengenal musik reage, hip hop, disko dan sebagainaya.

Jarang sekali anak-anak muda kita yang mejawab atau menyukai music favoritnya musik tradisional atau musik jawa itu jarang sekali,”tuturnya.

Oleh karena itu, tandas Wabup, pemerintah daerah melakukan kegiatan uyon-uyon yang dilakukan rutin sebulan sekali. Hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk melestarikan budaya tradisional Jawa sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada generasi muda dan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal tradisional khususnya karawitan. Kegiatan tersebut juga sekaligus bermanfaat untuk mencetak bibit-bibit seniman seniwati yang masih muda melalui sekolah-sekolah, karena jiwa atau pemikiran mereka masih fresh/segar.


(Kabare Bralink/Humas)

Agar Kunjungan Wisatawan Tidak Kendor, Pegiat Wisata Harus Termotivasi

PURBALINGGA – Para pegiat desa wisata harus terus memotivasi diri untuk mengembangkan kemampuannya dalam merebut pasar wisatawan. Melakukan motivasi diri ini sangat penting karena merupakan titik awal kesuksesan seseorang. Orang yang bodoh sekalipun, jika mampu memotivasi diri dan mewujudkan cita-citanya, maka akan sukses di kemudian hari. Disisi lain, pelaku desa wisata harus menjaga trust (kepercayaan), karena kepercayaan ini nilainya tidak bisa diukur dengan uang.

Manusia diciptakan sebagai makluk yang terpilih di dunia. Dari jutaan sperma, hanya terpilih satu yang mampu membuahi ovum, dan akhirnya jadilah sosok manusia. Manusia inilah merupakan makluk yang terseleksi dari jutaan sperma manusia. Jangan kalah sama monyet yang bisa mencari uang. Masak monyet saja bisa nyari duwit, manusia malah tidak bisa,” ujar Zaenal Abidin, salah seorang motivator yang juga Direktur Institut Kemandirian serta konsultan desa wisata.

Zaenal Abidin mengungkapkan hal tersebut saat memberikan motivasi bagi para pegiat desa wisata, para kepala desa lokasi desa wisata dan pengelola daya tarik wisata di Operation Room Graha Adiguna, Kompleks Pendapa Dipokusumo Pemkab Purbalingga, Selasa (29/11). Acara tersebut dibuka oleh Sekda Wahyu Kontardi, SH dan dipandu oleh Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si.

Menurut Zaenal, pegiat desa wisata jika ingin menang dan mampu mendatangkan wisatawan, haruslah melakukan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak hanya menjadi folower saja, tetapi menjdilah seorang pioner. Selain itu, pegiat wisata juga harus mampu membaca peluang dan memanfaatkan peluang sebaik-baiknya.

Seseorang biasanya ingin bangkit setelah mendapat materi motivasi dari motivator, namun setelah tiga minggu kemudian sudah kembali berbalik lupa dengan motivasi yang telah diterimanya. Tempalah besi saat masih panas, maka besi itu akan terbentuk sesuatu sesuai yang diinginkan. Berbuatlah sesuatu ketika kita sudah di puncak semangat, jangan menunggu semangat itu mengendur. Semua akan berpulang pada diri sendiri, akankah mau maju, ataukah hanya sudah puas seperti sekarang,” kata Zaenal yang menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Peternakan Unsoed, dan S-2 di Universitas Trisakti serta di Riyal Melbourne Institute Technology.

Zaenal juga meminta, jangan menjadikan seorang motivator untuk bergerak. Motivator ibaratnya hanya sebuah accu kendaraan. Ketiga kendaraan sudah berjalan, ketika accu itu dilepas, tetap saja kendaraan bisa jalan. Pergerakan kendaraan sudah dikendalikan oleh dinamo. Ibaratnya, diri sendirilah yang menjadi seperti sebuah dinamo.

Zaenal melihat, seseorang yang ingin maju dan bangkit biasanya ada motivasi yang melatarbelakanginya. Zaenal mencontohkan seorang sales yang ingin maju bisa karena ingin janji imbalan yang tinggi. Atau bisa juga karena takut kesusahan. Takut susah karena akan dipecat jika tidak memenuhi target pendapatan itu.

Seseorang harus memiliki target kedepan, mesikupun ketika disampaikan saat ini, target itu seperti diluar akan sehat. Namun, sejatinya ketika target ditetapkan, itu sudah menjadi bagian motivasi untuk mengembangkan diri dan menggapai target itu,” kata Zaenal yang telah menerbitkan setidaknya 95 jenis buku tentang motivasi, peternakan dan ketrampilan.

Dalam kesempatan itu, Zaenal secara spontan memainkan game. Zaenal awalnya memancing audien, apakah kebahagiaan diukur dengan uang yang banyak? Ternyata uang banyak bukan menjadi ukuran kebahagiaan, namun kebahagiaan itu juga butuh uang. Zaenal kemudian melempar dua uang koin lima ratus rupiah. Zaenal berujar, siapa yang butuh uang? Namun ternyata tidak ada peserta yang langsung mengambilnya. Sesaat kemudian, Tiba-tiba ada dua peserta yang mengambil uang itu di lantai dan mengantonginya.

Dari sekitar 100 orang yang hadir, ternyata hanya ada dua orang yang memanfaatkan peluang. Meskipun peluang itu kecil, hanya uang recehan. Sementara peserta lain hanya beralasan, jauh dari tempat duduknya untuk beranjak. Ini hal sepele, namun peluang itu harus ditangkap, sama halnya seperti menangkap peluang kedatangan wisatawan,” kata Zaenal yang sesaat kemudian memanggil kedua orang yang mengambil uang receh tersebut, dan ditukarnya dengan uang kertas lima puluh ribuan.

Ini rejeki saudara, karena saudara piawai memanfaatkan peluang,” ujar Zaenal.
Dibagian lain, Zaenal meminta kepada para pelaku desa wisata untuk tidak meminta bantuan uang ke Pemkab atau meminta fasilitasi dari dana Pemkab. “Ketika ingin mandiri, maka ia harus bangkit dari kemampuan diri sendiri, jangan tergantung dan menggantungkan pada orang lain, termasuk kepada Pemkab,” ujar Zaenal yang mengaku pernah menjadi sopir truk proyek ini.

Sementara itu Sekda Purbalingga Wahyu Kontardi menyatakan, Pemkab terus mendorong pengembangan desa-desa wisata karena sektor pariwisata diyakini mampu menggerakan roda perekonomian masyarakat. Bentuk dukungan pemkab antara lain dengan memperbaiki infrastruktur menuju lokasi desa wisata, memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan sumberdaya manusia, dan bahkan memberikan bantuan keuangan khusus.

Peluang kunjungan wisata ke Purbalingga juga akan terbuka lebar, seiring dengan akan dibukanya penerbangan melalui bandara Soedirman dan juga dibukanya jalan tolo Jakarta Pemalang, yang salah satu pintu keluarnya di Pemalang,”kata Wahyu.


(Kabare Bralink/Wisata)
 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis