Headlines News :
purbalingga

Paling Anyar

Kabar Paling Anyar

Per 18 Desember 2018, Bayi Baru Lahir Wajib Didaftarkan BPJS Kesehatan

Written By Kabare Braling on Thursday, December 27, 2018 | 4:39 PM

Ilustrasi from www.pixabay.com

PURBALINGGA - Sesuai Perpres No 82 Tahun 2018, Bayi baru lahir waib didaftarkan ke BPJS Kesehatan, yakni harus didaftarkan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Aturan tersebut mulai berlaku Selasa (18/12/2018) bagi setiap bayi lahir yang orang tuanya mempunyai JKN-KIS.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor BPJS Kesehatan Purbalingga Salohuddin saat berkunjung ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkonimfo) Purbaliangga, Kamis (27/12). Solahuddin mengatakan, bayi yang baru lahir wajib didaftarkan paling lama 28 hari sejak kelahirannya. Dan keberadaan JKN –KIS langsung aktif, tidak menunggu sampai 14 hari.

Apabila terjadi keterlambatan pendaftaran maka preminya akan tetap dihitung sejak bayi tersebut itu lahir. Kepesertaan JKN KIS Bayi menyesuiakan dengan kepesertaan orang tuanya, jika kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) maka kepesertaan bayi juga PBI,” tambahnya.

Jika orang tuanya tidak mempunyai JKN KIS, bayi yang didaftarkan disamakan dengan JKN KIS Mandiri (Pekerja Bukan Penerima Upah atau PBPU). Sehingga proses verifikasi sampai 14 hari kalender. Terkait dengan kepesertaan JKN KIS di Purbalingga, menurut Salohuddin sudah mencapai 83 persen dari jumlah penduduk Purbalingga, sekitar 10 persen merupakan JKN KIS Mandiri.

Solahuddin juga menjelaskan keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan yang dilakukan selama ini. Ada 4 loket untuk melayani masyarkat yakni loket pendaftaran, loket pembaruan data, loket koorporasi dan loket keluhan dan informasi. Bantuan satpam terkait dengan pelayanan kepada masyarakat agar sampai ke meja pendaftaran sudah lengkap sehingga tidak kembali lagi.

Kita kasihan kepada masyarakat sudah ngantri lama cuma dikarenakan kekurangan persyaratan mereka pulang lagi. Satpam bukan sebagai loket pelayanan informasi namun berfungsi membantu masyarakat,” ujarnya

Salohuddin juga mengatakan, masyarakat juga bisa menggunakan pendaftaran secara online yakni dengan mengunduh aplikasi Mobile JKN di Play Store. Aplikasi tersebut memberikan kemudahan akses dan pelayanan yang optimal bagi peserta.

Melalui aplikasi ini, peserta dapat mengakses beragam informasi terkait program Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan secara cepat dan mudah, di manapun dan kapanpun,” ujarnya.

(Kabare Bralink/Hms)

Dulu Ditertawakan, Kini Banyak Sekolah yang Melakukan Study Banding ke Sekolah Ini

Written By Kabare Braling on Tuesday, December 4, 2018 | 12:36 PM


PURBALINGGA - Melalui konsep Spendak Wispalingga (SMP Negeri 2 Karangreja Wisata Pendidikan Adiwiyata Purbalingga), SMP N 2 Karangreja menatap sekolah Adiwiyata tingkat nasional. Hal tersebut disampaikan kepala SMP N 2 Karangreja, Riswanto saat ditemui di ruangannya, Senin (3/12) mengenai kesiapan sekolah tersebut untuk mengembangkan diri guna menuju sekolah adiwiyata tingkat nasional.

Riswanto mengatakan, konsep sekolah adiwiyata harus dibungkus menjadi tempat wisata edukasi agar menjadi stimulus sekolah lain khususnya di Kabupaten Purbalingga. Menurutnya, sekolah yang dia pimpin ingin selangkah maju di depan dengan cara mengembangkan konsep tersebut di tengah trend sekolah adiwiyata yang juga terjadi di Purbalingga.

Kami punya mimpi sekolah ini menjadi tujuan wisata edukasi tentang pemanfaatan lahan atau pun pemanfaatan limbah. Kami ingin sekolah-sekolah di Purbalingga menengok kesini guna melihat apa yang telah kami lakukan sehingga kami menjadi sekolah adiwiyata,” kata Riswanto.


Apa yang telah dicapai SMP N 2 Karangreja hingga menjadi sekolah adiwiyata tingkat Provinsi merupakan kerja keras semua pihak secara marathon. Sekolah yang awalnya terlihat apa adanya dan terkesan kumuh berhasil disulap menjadi sekolah yang nyaman. Riswanto mengaku perlu waktu 18 bulan untuk mengubah sekolah itu menjadi seperti sekarang.

Perlu waktu 18 bulan. Ini berkat kerja keras semua pihak khususnya para guru dan siswa yang bahu membahu menjadikan sekolah ini menjadi seperti sekarang,” imbuhnya.

Saat disinggung mengenai pendanaan, dia mengaku hanya memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar sekolah sehingga biaya yang dikeluarkan tidak besar. Kini, banyak sekolah yang telah melakukan study banding ke SMP N 2 Karangreja. Tercatat sampai dengan bulan November ada 10 kelompok yang melakukan study banding di antaranya SMP N 1 Padamara, SMP N 2 Karangmoncol, SMP N 4 Karangmoncol, SMP N 2 Kemangkon, SMP N 1 Mrebet, SMP N 2 Mrebet, SMP N 2 Purbalingga, DKR Kwaran Karangreja, Kepala Sekolah dan Guru SD di lingkungan Kecamatan Karangreja, Siswa-siswi SD di lingkungan Desa Kutabawa dan Serang.

Dulu sekolah kami ditertawakan ketika baru akan merintis sekolah adiwiyata. Sekarang banyak sekolah yang melakukan study banding ke sekolah ini,” pungkasnya.

(Kabare Bralink/Hms)

Ini Dia Karya Gusmen Heriadi dalam Pameran Ciptadana Art Program

Written By Kabare Braling on Thursday, November 22, 2018 | 11:53 AM


www.kabarebralink.com
Jakarta – Gelaran Pameran Karya Senin tahun ini kembali hadir yang diselenggarakan oleh Ciptadana Art Program dengan menampilkan karya-karya dari seniman asal Sumatera Barat yang kini menetap dan berkarya di Jogjakarta, Gusmen Heriadi. Gusmen Heriadi lahir pada tahun 1974 di Pariaman, Sumatra Barat dan lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) pada tahun 2005.

Karya-karya dari Gusmen ini sangat apik dan berkarakter. Hal itu terjadi karena sebagian besar objek yang diangkat oleh Gusmen di dalam karya-karyanya merupakan wujud metafora dari perasaan dan perdebatan mengenai isu budaya dan tradisi dalam kehidupan modern bermasyarakat. Sebagian besar karya yang diciptakan adalah bukti nyata dari beragam impian, tanggapan perihal kehidupan dan padangan filosofis sang seniman. Pemikiran filosofis dan kritis yang banyak ditampilkan dalam karya-karyanya merupakan hasil dari perkembangan kultur dan budaya disertai kebiasaan sehari-hari dan pengaruh dari luasnya pergaulan seni dan proses pembelajarannya.

Emmo Italiander, yang merupakan eks Warga Belanda yang kini sudah menjadi WNI, ialah selaku kurator seni pameran Ciptadana Art Program. Dia mengungpkapkan, “Sebagaimana kami kerap menampilkan dari tahun ke tahun, Ciptadana Art program kembali hadir dalam mempromosikan dialog yang menjembatani komunitas bisnis di Indonesia dan dunia seni yang dinamis. Gusmen kerap menampilkan karyanya dalam dua decade terakhir dan kami sangat antusias untuk dapat menampilkan karya-karya sang seniman di dalam program kami tahun ini,”

Dalam karyanya saat ini, Gusmen Heriadi mengeksplorasi kebanggaan akan ‘identitas’ manusia dan bagaimana kebanggaan tersebut berdampak pada lingkungan dan kehidupan makhluk lainnya melalui pendefisinian dari segi ‘esensi’ dan ‘status’.

Sang seniman mengilustrasikan ‘esensi’ sebagai sesuatu yang mendefinisikan manusia dan semua makhluk hidup di sekitarnya. Apa saja kah hal yang membentuk kita? Apa yang memisahkan kita? Apa yang kita bagikan? Dan tentu saja, apa yang kita abaikan? Sikap dan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup harus sama, tapi sebagaimana dinyatakan oleh para babi penguasa dalam ‘Animal Farm’ karangan penulis ternama George Orwell, “Semua hewan memang setara, tapi beberapa lebih setara dari pada yang lainnya,” Di dunia kita, ‘esens imanusia’ adalah segalanya, saat semua makhluk lain dianggap sebagai barang komoditas atau konsumsi. Kurangnya rasa hormat dapat membahayakan masa depan semua makhluk di muka bumi.

Status’ sejatinya berhubungan dengan penempatan individu dalam hubungannya dengan individu lain di sekitarnya, terutama terkait dengan posisi sosial maupun profesional dan terkait dengan keadaan dan situasi. Bagi sebagian besar manusia, status menggambarkan posisi mereka di dalam komunitas dan kehidupan bermasyarakat, baik berupa keberhasilan, pencapaian, atau pun kepemilikan. Bagihewan, status sifatnya lebih kritis karena menentukan posisi mereka pada rantai evolusi dan kesintasan; terancam, dihargai atau bahkan rentan.

Dalam upaya meraih status yang sering kali dilakukan dengan segala cara, manusia bisa keliru menerapkan nilai menurut persepsi merupakan nilai sejati sehingga mengorbankan dan menguras sumber daya yang berharga atau bahkan seluruh spesies dalam upaya untuk membuat manusia lain terkesan dan memanjakan ego mereka sendiri. Sumber daya yang terbatas terancam habis akibat gengsi yang tak terbatas.
www.kabarebralink.com
Gusmen Heriadi, Seniman Asal Sumatera Barat yang kini menetap di Yogykarta

Sang seniman Gusmen Heriadi menjelaskan, “Pada akhirnya, perilaku seperti ini yang saya amati menyebabkan kelelahan dalam menghadapi kesia-siaan yang tak terbatas. Baik 'esensi' maupun 'status' menentukan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita. Melalui berbagai eksplorasi, saya mencoba menerjemahkan kondisi manusia yang saya amati ini ke berbagai lukisan dan karya seni yang akan dipamerkan di Ciptadana Art Program tahun ini,”

Dikuratori oleh Emmo Italiaander dan Sudjud Dartanto, “Deep Skin – Skin Deep” yang ditampilkan oleh Ciptadana Art Program tahun ini memberi kesempatan bagi para pecinta seni di Indonesia untuk berbagi pikiran, ide, dan impian dengan seniman Gusmen Heriadi. Pameran dibuka untuk umum mulai Kamis, 22 November 2018 sampai dengan Jumat, 14 Desember 2018 setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore bertempat di Ciptadana Art Space lantai 5 Gedung Ciptadana Center.

Tentang Ciptadana Art Program

Ciptadana Art Program hadir guna mempromosikan dialog mendalam antara komunitas bisnis dan dunia seni yang dinamis di Indonesia. Ciptadana percaya akan terciptanya hasil yang positif jika pelaku bisnis secara aktif terlibat dengan seniman dalam mengapresiasi budaya, dan seni. Hal tersebut tentunya dapat memberikan inspirasi, wawasan, dan sinergi antar kedua belah pihak. Melalui kerjasama dengan seniman ternama dalam memberikan apresiasi terhadap karya seni yang memukau, Ciptadana mencoba memberikan perspektif baru dalam melihat dan berinteraksi dengan para pemangku kepentingan, lingkungan bisnis dan juga semerta-merta untuk lebih meningkatkan citra perusahaan. Program ini pertama kali diinisiasikan oleh Emmo Italiaander, creative director yang juga merupakan kurator dan produser acara ini selama 7 tahun.

Tujuan utama dari Ciptadana Art Program adalah memperkenalkan karya seni yang indah dan menyegarkan namun menginspirasi dan mendidik.

Ciptadana Art Program merupakan acara tahunan, di mana seniman atau sekelompok seniman di bawah arahan kurator melaksanakan pameran tunggal maupun kelompok di CIptadana Art Space, lantai 5 Gedung Ciptadana.

Program ini meliputi pameran yang berlangsung selama dua minggu; ‘meet the artist’ talk bersama seniman, dan satu hari penuh media tour dengan seniman yang karyanya sedang ditampilkan.

Lalu, siapa saja para Seniman yang tampil dari tahun ke tahun? Berikut ini ialah mereka yang telah berpartisipasi dalam pameran di Ciptadana Art Space :

2011/2012 : Hanafi (pameran solo)
2012/2013 : Sunaryo (pameran solo)
2013/2014 : PandeKetut Taman (pameran solo)
2014/2015 : Filippo Sciascia (pameran solo)
2015/2016 : Ichwan Noor, Anusapati, HediHaryanto, A. Simatupang, T. Supriyono
2017/2018 : Made Wianta (pameran solo)
2018/2019 : GusmenHeriadi (pameran solo)

Untuk informasi lanjut bisa menghubungi contact person di bawah ini :
Maya Sujatmiko
PR & Communication Ciptadana Art Program
Email : mayasujatmiko@gmail.com
No. HP : 0816 1156 000

Putri Kinasih Asal Purbalingga Akan Wakili Indonesia di ASEAN Scetro Tahun 2019

Written By Kabare Braling on Friday, November 2, 2018 | 1:15 PM


PURBALINGGA - Putri Kinasih akan mewakili Indonesia di ajang Asean Scertro tahun 2019. Putri Kinasih merupakan salah satu santri Pondok Pesantren Minhajut Tholabah Purbalingga. Sebelumnya, ia termasuk ke dalam kontingen Jawa Tengah di ajang Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) ke-5 di Jambi pada 26-30 Oktober 2018.

Selama kegiatan PPSN berlangsung, Putri Kinasih mengikuti seleksi yang ketat untuk dapat lolos ke ajang Asean Scetro. Seleksi yang harus diikutinya di antaranya seleksi tertulis, seleksi wawancara, dan seleksi fisik. Wawasan dan kemampuannya di bidang kepramukaan, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Bahasa Indonesia benar-benar diuji. Dalam seleksi tersebut pula, Putri Kinasih harus menunjukan kemahirannya dalam hal tali temali, semapur, dan Tanda Kecapakan Khusus (TKK). Kemampuan di bidang kesenian pun turut dinilai dalam proses seleksi tersebut.

Setelah melewati proses seleksi yang panjang dan tidak mudah tersebut, Putri Kinasih berhasil memperoleh hasil yang baik. Ia kemudian dinyatakan lolos dan akan mewakili Indonesia di ajang Asean Scetro pada Maret 2019 nanti. Dengan demikian, Putri Kinasih menjadi satu-satunya wakil Jawa Tengah di ajang bergengsi tersebut.

Putri Kinasih tidak sendiri. Ia bersama 34 pramuka terbaik senusantara akan turut ambil bagian dalam kegiatan Asean Scetro. Nantinya, mereka akan berkeliling tujuh negara, yaitu Indonesia (Jakarta), Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, dan Filipina selama 15 hari. Dalam perjalanannya nanti mereka tidak hanya akan mengadakan kunjungan tetapi juga kegiatan berbagi pengalaman kepada sesama pramuka di Asean.


(Kabare Bralink/Bangkit)

Batik Carnival Purbalingga, Ajang Tingkatkan Popularitas Batik Lokal

Written By Kabare Braling on Tuesday, October 30, 2018 | 12:46 PM


PURBALINGGA - Pemkab Kabupaten Purbalingga berkerja sama dengan Dekranasda Kabupaten Purbalingga menggelar Batik Carnival 2018, Sabtu sore (27/10). Batik Carnival Purbalingga merupakan peragaan batik lokal khas Purbalingga dengan desain kreasi busana atau kostum yang menarik pada Peringatan Hari Batik Nasional Tingkat Kabupaten Purbalingga.

Meningkatkan popularitas batik lokal dan memberikan wadah bagi desainer dan pengrajin batik purbalingga berkarya,” kata Edi Suryono, selaku panitia Batik Karnival 2018.

Acara itu dihardiri sebanyak 65 peserta yang merupakan perwakilan dari OPD, Kecamatan, BUMD, dan Sekolah. Edi mengatakan selain menarik, kostum yang dikenakan peserta juga membawa pesan tersirat.

Ada yang mengenakan batik dikombinasikan dengan Gunung Slamet sebagai salah satu ikon Kabupaten Purbalingga, ada batik yang bercorak dengan hasil bumi di daerahnya, juga pesan informasi seperti Dinas Kesehatan yang membawakan kostum batik dikombinasikan dengan buah untuk mensosialisasikan program Germas,” tambahnya.

Edi menambahkan, kami juga menggelar kontes foto instagram terkait Batik Carnival 2018. Kontes foto tersebut dimaksud untuk untuk menyasar kaum milenial melalui sosial media instagram. “Jadi mereka lebih tahu, sekaligus bangga terhadap batik lokal, dan akhirnya tumbuh kepedulian dan ikut melestarikan budaya batik, khususnya batik khas Purbalingga. Pengumuman juaranya tanggal 10 November nanti,” katanya.

Plt. Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengapresiasi kegiatan tesebut. Ia akan terus mendorong pembatik di Kabupaten Purbalingga untuk terus memunculkan ide kreatif dan selalu berinovasi. “Corak Batik Goa Lawa telah sukses menjadi tren, lomba desain batik motif Wayang Suket yang kita adakan beberapa waktu yang lalu juga diharapakan juga mampu menjadi masterpiece batik Purbalingga. Ini dimaksudkan untuk memperkaya motif batik khas purbalingga,” ungkapnya.

Sementara itu, Hasil dari Lomba Batik Carnival 2018 yaitu Juara 1 Perwakilan dari Bank Jateng, Juara 2 BPR BKK Purbalingga, kemudian juara 3 diraih SMK Negeri Bojongsari. Untuk juara harapan 1 sampai harapan 3 masing-masing diraih peserta dari PD Owabong, Inspektorat dan BKPPD. Panitia juga memilih juara favorit yang diraih peserta nomor tampil 1 yakni dari Kecamatan Bojongsari.

Desain Kostum Perwakilan Bank Jateng mampu mempresentasikan salah satu tokoh pewayangan, selain itu telah memenuhi kriteria pengunaan batik khas Purbalingga 70%. Performannya bagus, simple, rapi dan elegan,” kata Arif Sono Candra, salah satu juri lomba Batik Carnival 2018.

Karang Taruna Bukateja Kumpulkan Dana Rp 30 Juta Dalam Aksi Peduli Palu


PURBALINGGA - Untuk meringankan beban penderitaan korban gempa bumi dan tsunami, Karang Taruna Progresif Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja, Purbalingga, Minggu malam (28/10/2018) menggelar Aksi Solidaritas Kemanusiaan untuk Palu “#Ask4Palu”. Pada aksi peduli Palu-Donggala-Mamuju di halaman Pasar Desa Bukateja yang dikemas pagelaran musik itu, terkumpul uang Rp 30.002.200 rupiah, yang akan diberikan langsung kepada para korban.

Selain uang, kami juga menyumbang 10 karung baju layak pakai. Kegiatan ini kami gelar juga dalam rangka memperingati hari Sumpah pemuda,” ujar Ketua Karang Taruna Progresif Desa Bukateja Kecamatan Bukateja , Purbalingga Dhoni Krisdiana Raharja,S.Sos.

Pada aksi solidaritas malam itu, hadir Camat Bukateja Sutono,S.Pd, tokoh masyarakat, sejumlah pengusaha serta dari kalangan perbankan di Bukateja. Ikut menyaksikan pula pagelaran music on the street itu, ribuan warga Bukateja dan sekitarnya.

Dhoni Krisdiana Raharja mengatakan, meskipun tanggap darurat sudah dianggap selesai, namun saudara-saudara di Ppalu, Mamuju dan Donggala sana masih membutuhkan makanan obat-obatan serta barang-barang penunjang hidup lainnya.

Sebagai satu keluarga besar Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami merasa terketuk untuk membantu. Dan kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian warga Bukateja dan sekitarnya untukpedulipada saudara-saudara kita di sana,” ujar Dhoni Krisdiana Raharja.



(Kabare Bralink/Hms)

Dindukcapil Sosialisasikan Pemanfaatan Data Adminduk


PURBALINGGA – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dindukcapil) Kabupaten Purbalingga menyelenggarakan Sosialisasi Pemanfaatan Data Administrasi Kependudukan (Adminduk) Lintas Sektor. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Purbalingga.

Kepala Dindukcapil Kabupaten Purbalingga, Imam Sudjono mengatakan sosialisasi ini merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (GISA). Menurutnya sosialisasi ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi tentang program sadar pemanfaatan data kependudukan.

Data yang didapatkan nantinya akan diterapkan untuk semua kepentingan penduduk,” kata Imam saat kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Data Administrasi Kependudukan (Adminduk) Lintas Sektor di Ruang Rapat Ardilawet Setda Purbalingga, Senin (29/10).

Tidak hanya itu, sosialisai ini merupakan tahap lanjutan atas upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga untuk meningkatkan kualitas layanan di bidang kependudukan dan pencatatan sipil. Sosialisasi ini sendiri diperuntukan bagi OPD yang melaksanakan pelayanan publik di wilayahnya.

Tentunya agar petugas pelayanan publik di daerah bisa dengan mudah mengakses data penduduk,” ujarnya.

Layanan di bidang kependudukan dan pencatatan sipil ini bermuara pada penguatan perlindungan dan pengakuan terhadap status pribadi dan status hukum seseorang. Penguatan ini dilakukan pada setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh penduduk di Kabupaten Purbalingga.

Sehingga dengan adanya data adminduk yang dapat diakses oleh OPD terkait nantinya dalam melakukan pelayanan, masyarakat tidak perlu lagi bolak-balik menanyakan tentang kevalidan data,” unkap Imam.

Data penduduk yang nantinya disinkronisasikan dengan OPD terkait berupa penggunaan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan KTP Elektronik. Sehingga data yang yang digunakan benar-benar data akurat yang bersumber dari Dindukcapil Purbalingga.

Nah tentu untuk mencapai hal seperti ini dibutuhkan kerjasama yang baik antar OPD agar masyarakat nantinya dapat terlayani dengan baik,” tandasnya.

Ia menegaskan untuk mewujudkan penggunaan data adminduk yang valid, maka harus ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama antara OPD dengan Dindukcapil Purbalingga terkait pemanfaatan data kependudukan. Adapun OPD yang telah melakukan peranjian kerjasama terkait data adminduk masyarakat Purbalingga yakni Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarsip) Kabupaten Purbalingga.

Dinarspus ini memang sudah melakukan kerjasama dengan Dindukcapil tentang aplikasi Sidomas atau Sistem Dokumentasi Masyarakat yang memanfaatkan NIK masyarakat Purbalingga untuk mendaftar pada aplikasi arsip dokumen masyarakat,” jelas Imam.

(Kabare Bralink/Hms)

Melestasikan Batik Purbalingga Lewat Workshop Bersama Galeri Purwita

Written By Kabare Braling on Monday, October 15, 2018 | 2:42 PM


 
PURBALINGGA - Industri Batik di Purbalingga terus bergeliat. Ini ditandai dengan semakin banyaknya pembatik yang bermunculan di berbagai desa serta apresiasi positif dari masyarakat terhadap Batik Purbalingga.

Geliat positif dari pembatik dan juga masyarakat ini perlu digaungkan ke lebih banyak lagi elemen masyarakat, biar Batik Purbalingga khususnya semakin lestari dan bisa menjadi usaha yang menguntungkan,” kata Owner Galeri Purwita, Rizki Purwitasari.

Cara Galeri Purwita untuk lebih menggaungkan Batik Purbalingga adalah dengan menggelar Workshop Membatik Cap. Workshop membatik secara gratis ini digelar di workshop Galeri Purwita yang ada di Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari.

Workshop membatik yang menyasar pembatik pemula ini jadi bagian dari Hari Batik Nasional yang dirayakan setiap 2 Oktober serta menyemarakan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga di Tahun 2018.

Ini adalah tahun kedua Galeri Purwita mengelar workshop batik. “Workshop ini juga menjadi upaya untuk menggugah para pembatik di desa yang meninggalkan batik karena dinilai tidak menguntungkan. Padahal masih prospektif kok,” kata Rizki.

Peserta Workshop Membatik Cap belajar dari mengenal teknik dan praktik mencap batik sampai dengan praktik mewarna dengan teknik mencolet. Motif yang dipakai dalam pelatihan ini adalah motif Batik Lawa khas Purbalingga.

Menggunakan cap Batik Lawa menjadi cara Galeri Purwita untuk mengenalkan batik motif khas Purbalingga. Harapannya, warga di desa juga ikut bangga dengan batik khas Purbalingga,” kata Rizki selepas acara.

Salah satu peserta Workshop Membatik Cap, Syarah mengaku senang mengikuti pelatihan membatik. Ini baru pertama ia mengikuti pelatihan seperti itu. “Ternyata membatik membutuhkan proses yang panjang,” kata dia.

Peserta lainnya, Uji juga antusias mengikuti workshop. Ia sudah penasaran dengan proses pembuatan batik sejak lama. “Nanti coba saya sampaikan ke ibu-ibu di Desa Majapura yang masih punya waktu luang untuk ikut belajar membatik,” kata Uji.

(Kabare Bralink/Bangkit)

Membanggakan, Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas Masuk Nominasi ISTA 2018


PURBALINGGA – Taman Wisata Pendidikan (TWP) Purbasari Pancuranmas Purbalingga menjadi salah satu nominasi Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018. ISTA merupakan penghargaan kepada pengelola destinasi wisata yang menerapkan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Visitasi lapangan dilakukan oleh Tim dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Minggu (14/10). Tim visitasi terdiri Prof Dr Ir Winda Mercedes Mingkid, M.Agr. Sc dan Erric Raymond Tatimu, S, Kom serta pendamping dari kemenpar Dicky. Tim diterima manajer TWP Purbasari Pancuranmas, Junjung, SE, Kabid Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Ir Prayitno, M.SI, anggota konsorsium dan perwakilan OPD (Organisasi Perangkat daerah) di jajaran pemkab Purbalingga yang terkait. Selain melakukan kunjungan lapangan, tim juga melakukan tanya jawab, diskusi dan Focus Group Discussion.

Winda Mingkid mengungkapkan, dari 176 destinasi wisata se-Indonesia yang mengikuti seleksi awal, terpilih 43 destinasi. Dari jumlah ini yang diputuskan untuk dikunjungi 32 destinasi termasuk TWP Purbasari Pancuranmas. “ISTA tahun ini merupakan kali kedua digelar oleh Kemenpar. Tema yang diangkat adalah Local Wisdom for Sustainable Development (Kearifan Lokal untuk Pariwisata Berkelanjutan),” kata Winda Mingkid yang juga guru besar pada Universitas Sam Ratulangi Menado.

Winda Mingkid mengatakan, tujuan penyelenggaraan ISTA 2018 adalah memberikan rekognisi terhadap pihak-pihak yang telah berupaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Kemudian untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi atas produk-produk pariwisata berkelanjutan dan partisipasi dan kerjasama sektor publik maupun swasta dalam pembangunan pariwisata di tingkat destinasi.

ISTA 2018 ini juga dimaksudkan untuk menstimulasi agar semakin banyak destinasi yang menerapkan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan dan sebagai ajang promosi serta branding bagi destinasi pariwisata baik di tingkat nasional maupun internasional dalam rangka mengakselerasi kunjungan wisata ke Indonesia,” jelas Winda.

Aspek yang dinilai dalam ISTA 2018, lanjut Winda, meliputi tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan, dampak ekonomi masyarakat sekitar destinasi, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta aspek pelestarian lingkungan. “Kami telah melakukan peninjauan lapangan dan melakukan wawancara dengan pengelola destinasi serta pihak-pihak terkait termasuk Pemda yang diwaliki dinas yang menangani pariwisata, TWP Purbasari Pancuranmas sudah cukup baik. Semua kriteria yang ditanyakan, sudah banyak yang diterapkan oleh pengelola dan juga oleh Pemkab setempat,” kata Winda.

Sementara itu Pengelola TWP Purbasari Pancuranmas, Junjung SE mengungkapkan, tempat wisata yang dikelolanya merupakan milik pribadi H Sarimun. TWP Purbasari mulai berdiri tahun 2001, atau saat ini sudah 17 tahun berdiri. Karyawan hampir sebagian besar dari lingkungan destinasi wisata, dan 60 persennya perempuan.

Dari berbagai aspek penilaian yang ditanyakan kepada kami, pada prinsipnya sudah dilakukan oleh TWP Purbasari Pancuranmas. Jika ada hal yang kurang, kami akan terus berbenah demi meningkatkan pelayanan kepada wisatawan dan juga kelestarian lingkungan destinasi wisata kami,” kata Junjung.

Kepala Bidang Pariwisata Dinporapar Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, pihaknya mengirimkan beberapa destinasi wisata termasuk desa wisata sebagai peserta ISTA, namun setelah dilakukan seleksi oleh Tim Kemenpar, satu destinasi dari Purbalingga yakni TWP Purbasari Pancuranmas berhasil lolos. “Keikutsertaan ISTA, tujuan awal bukanlah mengejar penghargaan, tetapi untuk mengukur implementasi pariwisata berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan destinasi wisata. Hal ini mendasarkan Peraturan Menteri Pariwisata (Permenpar) Nomor 14/2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan,” kata Prayitno.

Dalam pengembangan sustainable tourism, kata Prayitno, ada tiga poin utama yang harus menjadi perhatian. Pertama, lingkungan. Pengembangan sustainable tourism harus memperhatikan aspek pelestarian alam bebas, kualitas dan keamanan air, serta konservasi energi. Kedua, komunitas. Pariwisata berkelanjutan juga wajib mempertahankan atraksi, memiliki manajemen untuk pengunjung, memperhatikan kebiasaan pengunjung, dan menjaga warisan budaya.

Aspek ketiga adalah ekonomi. Sustainable tourism harus memantau perekonomian, peluang kerja bagi warga setempat, keterlibatan publik, penghargaan dan pemahaman bagi para turis, dan local access,” jelas Prayitno.

(Kabare Bralink/Wisata)

Ngonthel Bareng Jelajahi Masa Lalu Purbalingga Lewat Peninggalan Sejarah



PURBALINGGA - Sejumlah sepeda jadul terparkir rapi di halaman Museum Prof Dr Soegarda Purbakawatja, Sabtu sore, 13 Oktober 2018. Barisan sepeda onthel tersebut langsung menarik perhatian masyarakat yang lewat.

Sementara sepeda onthel terparkir, tidak kurang dari 20 orang mendengarkan penjelasan Registar Museum Prof Dr Soegarda Purbakawatja, Anita Pita tentang sejarah Purbalingga. “Hayo, siapa yang tahu peninggalan sejarah di sekitar Alun-alun ini,” tanya Anita Pita.

Di kawasan Alun-alun, memang terdapat banyak benda bersejarah. Seperti Pendapa Dipakusuma, Masjid Agung Darussalam, SMP Negeri 1 Purbalingga, Gedung Ahmad Dahlan, Lembaga Permasyarakatan hingga Alun-alun itu sendiri.

Sabtu sore itu, Anita Pita menjadi guide bagi peserta trip Ngepit Bareng Jelajah Kota Lama Purbalingga. Event wisata sejarah ini digelar oleh Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Purbalingga.

GenPI Purbalingga menggandeng Komunitas Purbalingga Sehat Pit Onta 'Puspito' dan Komunitas MTMA Purbalingga untuk menggelar trip dengan ngontel bersama. Jelajah ngepit bareng ini memiliki destinasi Makam Arsantaka, Tugu Kebangunan (yang sekarang dikenal dengan Tugu Kebangkitan) dan Krekop Purbalingga.

Di destinasi tersebut, Anita Pita menjelaskan tentang sejarah Purbalingga di era Kolonial Belanda. Menurut dia, Purbalingga punya peran penting ketika zaman Belanda tersebut.

Salah satunya ditandai dengan adanya gedung Markas Kodim 0702/Purbalingga yang dulunya merupakan tempat Asisten Residen dan Kerkof atau Krekop yang tidak lain adalah kuburan Belanda.

Di Krekop ini kebanyakan perempuan dan anak-anak. Kebanyakan juga nggak bisa teridentifikasi, karena marmer namanya hilang,” jelas Anita kepada peserta trip yang kebanyakan adalah anak muda ini.

Purbalingga punya banyak peninggalan Belanda karena dulunya kota ini adalah sebagai salah satu kota pekabaran Injil di zaman kolonial,” sambung Anita Pita saat ada di Krekop.

Salah satu peserta trip yang juga anggota GenPI Purbalinga, Anisa Rosdiana mengaku senang ikut trip karena bisa mengetahui dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Purbalingga dan kisahnya.

Sekjen Puspito, Wargianto mengapresiasi event Ngepit Bareng Jelajah Kota Lama Purbalingga. Bahkan, tidak hanya Puspito yang ikut dalam agenda ini, tapi juga ada sejumlah komunitas onthelis dari berbagai wilayah di Kota Perwira.

Ketua GenPI Purbalingga, Bangkit Wismo menjelaskan trip wisata sejarah ini berupaya mengenalkan konsep wisata sejarah. GenPI Purbalingga menilai, banyak destinasi wisata sejarah di wilayah kota yang bisa dieksplor.

Purbalingga tidak hanya punya destinasi wisata alam dan buatan saja, tetapi juga punya destinasi wisata sejarah yang menarik untuk digali. Konsep wisata sejarah sangat potensial,” kata dia.

Di luar itu, sambung Bangkit, Ngepit Bareng Jelajah Kota Lama Purbalingga ini menjadi bagian dari semangat untuk menyemarakan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Purbalingga yang akan jatuh pada Desember 2018 mendatang.

(Kabare Bralink/Bangkit)

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis