Headlines News :
purbalingga
Home » » Bocah 10 Tahun Mengidap Penyakit Aneh.

Bocah 10 Tahun Mengidap Penyakit Aneh.

Written By Kabare Bralink on Monday, December 14, 2015 | 12:26 PM

(Kabare Bralink/detik.com)
Banyumas – Akhir-akhir pemberitaan bocah terserang penyakit aneh kian marak. Lebih parahnya lagi, biaya untuk pengobatan penyakit-penyakit aneh itu tidak sedikit. Banyak diantara mereka yang terpaksa memasang iklan untuk permohonan bantuan.

Penyakit aneh itu bisa menjerat siapa saja dan tak pandang bulu, entah dari kalangan mana, penyakit itu tidak pernah berpikir harus hingga di mana. Seperti yang dilansir oleh detik.com, bocah berumur 10 tahun siswa kelas 3 SD N 2 Karangwangkal, Purwokerto Utara, juga mengiap penyakit aneh. Bocah yang diketahui bernama Gus Deva itu tiba-tiba sika dan perilakunya berubah.

Sekarang, dia lebih banyak diam, kedua tangannya bergerak-gerak tanpa aturan. Kaki kanannya juga tampak kesulitan berjalan tapi selalu bergerak. Hal tersebut merupakan kondisi yang tidak wajar dari Gus Deva, anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Satim (42) dan ibunya bernama Ratini (38). Kejadian tersebut dimulai sejak akhir November 2015 kemarin.

Ayahnya yang kesehariannya menjadi pemulung, mendapat informasi dari teman-teman sekolah anaknya, bahwa dia sempat terjatuh di selokan sekolah ketika bermain. Tapi Deva tidak pernah bercerita soal kejadian tersebut ke keluarga. Dia hanya diam dan diam.

Kamis berangkat sekolah, teman sekelas bilang Deva jatuh tapi cuma kakinya saja di selokan. Saya perhatikan pulang sekolah biasa langsung main, setelah itu mulai diam di rumah tidak kemana-mana. Hari Jumat dia tidak berangkat sekolah, lalu hari Sabtu tidak berangkat lagi, ibunya tanya Deva kok berubah, kok main-main lidah terus, tangannya gerak-gerak sendiri, kakinya juga jalannya pincang,” kata Satim kepada wartawan di rumahnya di RT 04 RW 03 Kelurahan Karangwangkal, Minggu (13/12/2015).

Orang tua Deva sempat membawa anaknya ke dokter. Namun dokter menyarankan agar Deva dibawa ke Puskesmas untuk meminta surat rujukan ke RSUD Margono Soekardjo agar diperiksa oleh dokter saraf.

Saya cuma punya uang Rp 50 ribu saat itu. Itu pun hasil mulung selama empat hari. Bingung ongkos untuk ke rumah sakit, mau naik angkot trayeknya tidak sama, akhirnya naik becak,” ujar Satim yang tinggal di rumah berukuran 4x5 meter.

Deva akhirnya diperiksa di RSUD Margono. Namun karena tidaak mempunyai biaya yang cukup, Satim mengajukan pembayaran biaya pengobatan dengan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Dokter meminta Satim datang kembali menebus obat setelah hari kesepuluh pemeriksaan medis. Namun pada 9 Desember, Satim tidak bisa membawa pulang obat untuk anaknya.

Hari Rabu itu libur ternyata, saya tidak bisa nebus obat, ongkos untuk naik ojek Rp 20 ribu juga sudah habis. Waktu itu anak saya masih bisa jalan. Hari Kamis mau ke rumah sakit, saya sudah tidak punya uang lagi,” tutur Satim.

Kondisi Deva semakin parah karena obat yang seharusnya dikonsumsi, tidak bisa dibawa pulang orang tuanya dari rumah sakit. Seluruh badannya sudah tidak bisa dikontrol lagi, mulai dari tangan hingga kakinya bergerak tanpa aturan. Duduk dan berdiri sudah tidak bisa dilakukan.

Sudah dua hari ini tidak bisa makan, kepalanya terus bergerak-gerak, kalau pun makanan masuk pasti muntah, sampai dia lemas baru bisa dikasih makan,” ujar Ratini.

Satim dan Ratini makin kecewa karena Deva ditolak dirawat hanya karena menggunakan Jamkesmas di RSUD Margono pada Sabtu (12/12).

Hari Sabtu kemarin, guru-guru Deva datang untuk membantu Deva berobat karena melihat kondisinya yang sudah semakin lemas dengan seluruh tubuh yang terus bergerak-gerak. Pertama dibawa ke RS DKT, di sana disuruh langsung ke IGD RSUD Margono karena hanya di sana yang ada dokter saraf,” ujar Ratini.

Endang, guru SDN 2 Karangwangkal yang ikut mengantar Deva menyebut pelayanan rumah sakit mengecewakan karena Deva dipingpong. Setelah sempat dibuat kebingungan, dokter poli saraf menemui orang tua Deva dan menghubungi dokter jaga di IGD agar dapat mendaftarkan Deva untuk dirawat.

Pas datang pakai dragbar (tandu darurat) saja tidak boleh, Deva harus digendong, saya paksa akhirnya dikasih pinjam. Di sana kita diputar-putar, dilempar-lempar. Lalu di poli saraf, dokter saraf menghubungi IGD dan bilang sudah telepon IGD supaya masuk nanti akan di observasi. Tapi setibanya di IGD, doker jaga bilang tidak bisa pakai Jamkesmas, bisanya pakai umum. Kalau pakai umum uang dari mana, karena kita tidak bisa pakai umum, lalu kita disuruh pulang, apa gunanya punya Jamkesmas kalau lihat kondisi anak sudah seperti ini tapi malah disuruh pulang karena pakai Jamkesmas,” ujar Endang.

Saat dikonfirmasi terkait kejadian ini, Kabag Umum RSUD Margono Soekarjo, Nurekta mengatakan akan melakukan koordinasi dengan jajaran di rumah sakit.

Kami akan melakukan klarifikasi ke semua bagian, apakah memang benar seperti itu,” ujarnya.

Nurekta menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pasien pengguna Jamkesmas belum mendapat pelayanan perawatan/medis salah satunya belum lengkapnya persyaratan yang dibawa pasien.

Kami bukan membela diri. Pada prinsipnya kami tidak pernah menolak pasien,” tegas Nurekta.

Menurutnya prosedur perawatan pasien pada saat jam kerja memang harus melalui poli.

Kecuali itu pasien kegawat daruratan. Saya rasa petugas di IGD sudah sangat paham tentang itu,” imbuh dia.

Sementara itu anggota DPRD Kabupaten Banyumas dari Komisi D, Yoga Sugama mengatakan rumah sakit harusnya memberikan pelayanan kepada semua orang meskipun menggunakan Jamkesmas.

Kejadian semacam ini mencoreng potret dunia kesehatan, karena itu Gubernur, Kadinkes Provinsi dan management RSUD Margono harus segera melakukan klarifikasi dan menindak tegas kepada oknum tersebut,” ujar Yoga.


(Kabare Bralink/detik.com)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis