Headlines News :
purbalingga
Home » , , » TOKOH PURBALINGGA : Purbadi Hardjoprajitno, Cablaka Pengabdi Setia

TOKOH PURBALINGGA : Purbadi Hardjoprajitno, Cablaka Pengabdi Setia

Written By Kabare Bralink on Saturday, January 9, 2016 | 6:05 PM

“Kita harus terbuka apa adanya dan berkomitmen tinggi, orang Purbalingga yang sudah menjalankanya contohnya Jenderal Soedirman. Dia nasionalis tulen!”
Purbadi Hardjoprajitno adalah salah satu tokoh yang dilahirkan oleh bumi Purbalingga. Ia adalah contoh sosok yang sukses dalam karir, bisnis dan kegiatan sosialnya. Purbadi dikenal secara nasional sebagai advokat handal, khususnya di bidang ketenagakerjaan. Selain itu, bisnisnya di bidang transportasi dan perkayuan juga sukses. Kegiatan sosial kemasyarakatan pun banyak digelutinya.
Bralink braling
Purbadi Hardjoprajitno, Tokoh Pendidikan dan Dermawan dari Purbalingga (KB/ImamYunianto)
Kabare Bralink berkesempatan untuk mewawancarai Purbadi disela kesibukanya yang bejibun beberapa waktu lalu. Gaya bicaranya blak-blakan, lugas namun juga penuh humor. Berbicara dengan Bapak empat anak ini sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan. Spektrum pengetahuanya sangat luas, mulai dari bidang hukum yang ditekuninya sejak dibangku kuliah, politik, pendidikan, budaya sampai sejarah.

Purbadi Hardjoprajitno, anak nomor tiga dari sebelas bersaudara ini dilahirkan di Purbalingga, Jumat Wage, 10 Oktober 1941. Ayahnya Maksoem Hardjoprajitno  adalah tokoh terpandang di Purbalingga dan juga aktivis di Partai Nasional Indonesia (PNI). Ibunya Siti Djamilah juga aktivis dan pernah menjadi anggota DPRD (1971-1975) dari Wanita Marhaenis.

Dengan didikan orang tuanya, tak heran Purbadi menjadi aktivis dan organisatoris ulung. Presiden Pertama RI Soekarno, pendiri PNI dan pencetus marhaenisme menjadi tokoh panutannya. “Saya Soekarnois sejati,” katanya kepada Kabare Bralink.

Purbadi lahir dan menamatkan pendidikan dasar di Purbalingga, Ia kemudian meneruskan ke pendidikan menengah pertama dan lanjutan di Demak dan Semarang dan lalu merampungkan pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Setelah mendapatkan gelar sarjana hukum, Purbadi diangkat menjadi dosen dan tidak berapa lama diangkat menjadi pembantu dekan di almamaternya itu.

Sejak di bangku kuliah, Ia bersama teman-temannya sudah memulai praktek memberikan bantuan hukum di Yogyakarta. Meski karirnya sempat diwarnai dengan pengalaman pahit di era orde baru yang membuat dirinya sempat kehilangan hak perdata dan hak politiknya. Namun, Purbadi tidak putus ada dan tetap berusaha. Akhirnya, pada 1985, Ia berhasil mendirikan Kantor Advokat dan Firma Hukum Purbadi and Associate. Kantor advokatnya banyak menangani masalah ketenagakerjaan sesuai dengan spesialisasinya. Beberapa perusahaan terkemuka pun memakai jasanya sebagai konsultan hukum seperti City Bank, Lippo Bank, BII, Plaza Indonesia dan lainnya. Pengalamanya dalam bidang ketenagakerjaan dan perburuhan, Ia tuangkan dalam buku ‘Kebebasan Berserikat dan Implikasinya.

Purbadi juga memiliki pengalaman sangat luas sebagai pembicara tentang Hubungan Industrial di berbagai forum nasional dan berbagai pelatihan di perusahaan-perusahaan, ia dipercaya sebagai Asisten Tim Pelaksana Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Perundang-undangan Departemen Kehakiman RI, Anggota Delegasi ke Internasional Labour Conference (ILC / ILO) di Geneva, pada Committee on Contract Labour, Ketua Delegasi Pemda DKI Jakarta untuk studi masalah Social ke negara-negara Philipina dan Thailand, Australia.

Purbadi juga aktif dalam bidang akademik. Ia menjadi Pembantu Direktur Bidang Akademik & Kemahasiswaan di Akademi Litigasi Yayasan Pengayoman Departemen Kehakiman RI (ALTRI PENGAYOMAN), Jakarta, Dosen hukum di perbagai perguruan tinggi dan Aktif berbagai kelembagaan Tripartit Nasional, Dewan Pengupahan, Penyusunan Naskah Akademis Peraturan Perundang-Undangan Departemen Kehakiman RI.

Selain tentang hukum dan bisnis, ia juga aktif di organisasi mulai dari SR hingga ke bangku kuliah. Purbadi pernah menjadi anggota ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) cabang Yogyakarta (1964-1967) dan menjadi sekertaris anggota Jamiatul Muslimin Yogyakarta di 1978. Ia juga menjadi sebagai Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) DKI Jakarta dan Sekjen DPP APINDO dan pernah menjadi dewan penasihat DPP IKADIN.

Meski kesibukanya segudang, Purbadi juga tak melupakan kegiatan sosial, pendidikan dan keagaman. Ia aktif di berbagai yayasan, seperti Yayasan Fisabililah di Pondok Rangon, Jakarta Timur yang menampung anak-anak yatim dan lansia. Pada 1996 sampai sekarang Ia juga aktif menjadi Ketua Majlis Sekolah SMK 34 Jakarta. Kemudian, Ia juga aktif di Yayasan Kusuma Bangsa yang menangani penanggulangan HIV AIDS.

Kepada daerah kelahiranya, Purbalingga, Ia juga tidak lupa. Meski sering berpindah-pindah ke berbagai kota mengikuti orangnya, Purbadi tetap merasa sebagai orang Purbalingga tempat dimana Ia dilahirkan. “Bagaimanapun saya orang Purbalingga, mati pun nanti saya inginnya di Purbalingga,” katanya.

Saat masih menjadi mahasiswa, Ia telah mendirikan Kemangga (Keluarga Mahaiswa Purbalingga). Purbadi menjadi ketuanya. Pengalaman itu, kata dia, sangat berkesan.
Saat itu, Kemangga menjadi motor kegiatan sosial dan kesenian di Purbalingga. Kemangga juga menjadi perekat berbagai etnis yang ada di Purbalingga.  “Saat itu anak-anak etnis termasuk etnis Tionghoa sulit bergaul, kita wadahi disitu,” katanya. Salah satu rekannya yang dingat adalah Sutarto Rachmat yang pernah menjadi orang nomor 2 di Purbalingga. “Dulu kalau pentas di kawedanan, Pak Tarto ngendangnya bagus banget,” katanya mengenang,
bralink braling
Sekolah Purba Adhi Suta yang didirikan oleh Pak Purbadi di Purbalingga (arsitekbiro.worpress.com)
Selain itu, banyak kegiatan seni dan olahraga di Purbalingga yang disponsorinya. Purbadi juga banyak memberikan beasiswa tanpa ikatan kepada pelajar asal Purbalingga yang tidak mampu. “Alhamdulilah sudah banyak yang lulus dan bisa berkarya,” katanya. Melalui Yayasan Purba Adhi Suta, Ia juga mendirikan sekolah di tanah pribadinya di Purbalingga untuk anak-anak kesulitan belajar dan memiliki kebutuhan khusus. Purbadi juga memiliki Panti Asuhan Siti Djamilah dan menjadi donator tetap Yayasan Yatim Piatu Mardani Siwi.

Kemuadian, karena kepedulian dan kiprahnya untuk Purbalingga, Purbadi pun pernah dicalonkan menjadi bupati. Hanya saja waktu itu ia mencium aroma politik uang yang sangat kental sehingga dirinya memilih untuk mundur. “Eman-eman uangnya, mending buat yang lain saja yang lebih bermanfaat,” katanya.

Namun, semangatnya untuk memperbaiki Purbalingga tak pernah luntur. Tentu saja, Ia berkeinginan Purbalingga lebih maju dimasa yang akan datang. “Jangan hanya ekspor pembantu dan menjadi buruh,” katanya. Menurutnya, sumberdaya manusia di Purbalingga harus lebih banyak diperbaiki.

Purbalingga, kata dia, memiliki potensi yang sangat besar di bidang pertanian. “Jangan terpengaruh modernisasi dan industry yang hanya memtuk kemajuan instan,” katanya. Ia tak rela warga Purbalingga hanya dieksploitasi untuk kepentingan investor asing.  “Kita harus berdikari dan menjadi tuan di tanah sendiri,” katanya. Purbadi pun menyitir falsafah Trisakti yang pernah dilontarkan Presiden Sukarno yaitu berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik dan berkperibadian di bidang kebudayaan.”Pakai itu, jangan dilupakan,” katanya berapi-api.

Diakhir pembicaraan, Purbadi pun berpesan kepada warga Purbalingga untuk bisa menjalankan motto paguyuban Seruling Mas yang diciptakanya yaitu cablaka pengabdi setia, artinya “Kita harus terbuka apa adanya dan berkomitmen tinggi, orang Purbalingga yang sudah menjalankanya contohnya Jenderal Soedirman. Dia nasionalis tulen,” katanya. Kepada generasi muda ia juga menitipkan pesan yang disampaikanya dalam bahasa Banyumasan. “Aja gegoh, aja reang, sing guyub sing rukun mbangun bangsane dewek,” katanya.

Ok deh Pak Pur.. lanjut terus perjuangane mbangun Purbalingga! (Kabare Bralink/Igoen)

NB : tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kabare Bralink

#TokohPurbalingga #Purbadi #Dermawan #PurbaAdhiSuta
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis