Headlines News :
purbalingga
Home » » Keluarga Ini Hidup Di Kamar Mandi

Keluarga Ini Hidup Di Kamar Mandi

Written By Kabare Bralink on Wednesday, April 6, 2016 | 4:05 PM

PURBALINGGA – Di zaman yang sudah modern dan ekonomi cukup meningkat, ternyata masih ada sebagian rakyat yang hidupnya miris. Etin (46) bersama istrinya Tarsem (44) dan anaknya Tomi Indra Leksana (10 bulan) kesehariannya hidup di kamar mandi. Mereka mendiami kamar mandi yang masuk di wilayah RT 2 RW 1 Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga tersebut.

Kisah yang memilukan itu dimulai Juni 2015. Dulu. kamar mandi itu adalah bagian rumah milik Juriyah (60). Pada awal Juni 2015 rumah Juriyah itu luluh lantak karena terbakar. Ironisnya polisi menemukan dugaan jika kebakaran tersebut dilakukan oleh anaknya sendiri, Yuni (30) yang sejak lama memang memiliki gangguan kejiwaan.

Karena kebakaran tersebut Juriyah harus rela meninggalkan rumah dan juga kenangan akan almarhum suaminya terkubur bersama puing-puing sisa lalapan si jago merah. Rumah itu pun hanya menyisakan ruang kamar mandi.

Setelah kebakaran yang memilukan itu datanglah Etin (46) dan Tarsem (44). Bingung tidak punya tempat berteduh, pasangan suami istri (pasutri) tersebut rela untuk mendiami satu-satunya bangunan yang tersisa dari kejadian kebakaran tersebut. Bahkan lebih tragis, pasutri ini membawa serta bayinya yang baru berusia 10 bulan untuk hidup bersama di dalam bangunan bekas kamar mandi berukuran 2x3 meter itu.

Mboten masalah teng kamar mandi mas, niki mawon sampun syukur, sing penting wonteng panggenan ngiup,” kata Tarsem yang ketika didatangi SatelitPost sedang membuat perapian di pawon yang dia buat dekat dengan bangunan toilet itu, Senin (4/4).

Sejenak Tarsem mohon diri untuk masuk menghampiri bayinya, Tomi Indra Leksana, yang menangis di dalam bangunan kamar mandi tersebut. Ketika Kami mengikutinya, sungguh ironis, bayi yang baru berusia 10 bulan itu hanya terbaring di atas sehelai karpet dan perlak kecil.

Sambil menenangkan tangis anaknya, Tarsem kembali menceritakan kisahnya. Dirinya sudah hampir satu pekan tinggal di bangunan kamar mandi tersebut. Meski bersyukur, Tarsem sebenarnya terpaksa untuk tinggal di sana. Bagaimana tidak, suminya hanya bekerja sebagai tukang becak, dan seringkali suaminya juga diminta untuk membantu berbagai hal berat sebagai buruh serabutan.

Seniki jalere kulo seg dados glidig mas teng ngajeng niku wonten mbaranggawe, mbantu asah-asah piring sanjange,” ujarnya.

Tidak memiliki penghasilan tetap membuat Etin tidak bisa menyewakan hunian layak bagi keluarganya, sementara Tarsem hanya bisa menunggu di rumah karena Tomi masih terlalu kecil untuk ditinggal bekerja. “Nek namung saking becak nggih mboten cekap, kangge tumbas wos mawon kirang. Sak niki pun sami gadhah motor, becak pun mboten payu,” katanya sembari menyiapkan air hangat untuk memandikan buah hatinya.

Sementara itu, Tarsem mengaku sudah empat tahun menikah dengan Etin. Sebelum memutuskan untuk tinggal di kamar mandi itu, Tarsem menumpang di rumah orangtuanya di Desa Karangbanjar, Kecamatan Kutasari. Namun seiring berjalannya waktu, Etin merasa sungkan untuk hidup menumpang.

Sedangkan suaminya, lanjut Tarsem, walaupun memiliki 11 saudara. Namun tidak ada dari mereka yang memiliki nasib lebih baik dari suaminya. “Morotuonipun kulo namung gadhah griyo setunggal, nek badhe teng mriko nggih mangke rebutan kalih tunggale,” ujarnya.

Di antara puing-puing itu, Etin dan Tarsem membuat sebuah pawon untuk memasak. Dengan memanfaatkan sisa seng yang ditinggalkan pemiliknya, mereka membuat bilik sempit untuk digunakan sebagai tempat mereka mandi.

Toyane kulo sampun pamit kalih sing gadhah, kulo ken nambaih sekedik biaya ledeng mangke,” katanya sambil masih memandikan Tomi.

Sampai saat ini dirinya masih merasa beruntung karena tetangganya di situ bersimpati kepada nasib keluarganya. Beberapa hari lalu, Tarsem menuturkan sudah mendapat beberapa bantuan materiil dari warga sekitar. “Sederenge kulo mboten kalih karpet acan mas, lampune nggih namung senthir, nek seniki nggih pun mending lah diparingi listrik kalih lampu,” katanya.

Dia berharap ada sedikit bantuan dari Pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk memberikannya tempat yang layak untuk dirinya, terlebih untuk buah hatinya, Tomi. Karena dia pun menyadari, jika hidup di dalam kamar mandi seperti itu sangat tidak baik untuk kesehatan anaknya tersebut.

(Kabare Bralink/SN)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis