Headlines News :
purbalingga
Home » , , , , » TOKOH PURBALINGGA: Prof. Eko Budihardjo, Sang Arsitek dan Akademisi Asli Purbalingga

TOKOH PURBALINGGA: Prof. Eko Budihardjo, Sang Arsitek dan Akademisi Asli Purbalingga

Written By Kabare Bralink on Tuesday, April 26, 2016 | 11:49 AM

“A city without old buildings is just like a man without memory, kota tanpa bangunan tua sama saja manusia tanpa ingatan. Manusia tanpa ingatan sama dengan orang gila, kota tanpa ingatan sama saja dengan kota gila."

Sepenggal kalimat ini sering dilontarkan dari  mulut prof Eko Budihardjo disaat acara-acara seminar dan forum ilmiah, kalimat itu pula yang membuat tersadar Walikota Semarang disaat kota Semarang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan yang notabene Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah sehingga bangunan-bangunan tua di Kota Semarang satu persatu dihancurkan dan digantikan dengan bangunan baru sebagai pusat kegiatan ekonomi, sampai pada akhirnya walikota Semarang  mengevaluasi kembali kebijakan tersebut dan membatalkan kebijakannya untuk menghancurkan bangunan tua di Semarang dikarenakan bangunan tua harus dilestarikan pemkot sadar bahwa bangunan tua memiliki rekaman sejarah yang sangat penting dan bukti sejarah yang wajib diketahui generasi selanjutnya agar tahu bagaimana perjalanan sebuah kota itu berkembang.

Sosok Prof. Eko Budihardjo yang akrab dipanggil prof eko merupakan sosok sederhana ,santun dan humoris yang tak asing bagi masyarakat Jawa Tengah maupun kancah nasional bahkan di Internasional terutama di kalangan akademisi, seni dan  arsitektur. Perlu kita tahu Beliau adalah putra daerah Purbalingga yang lahir pada tanggal 9 Juni 1944. Akan tetapi besar di Purwokerto. Layaknya anak kecil umumnya, ia lumayan bengal. Kebandelannya tersalurkan konon bila disuruh menggantikan ayahnya meronda. Ia bukannya mengamankan lingkungannya, malah memalingi mangga, tebu, dan jambu di kebun tetangganya. Iseng saja pokoknya kenyang, paparnya. Tapi pernah aksi mengambil tebu orang dipergoki pemiliknya, dan lari dengan meninggalkan sandalnya. Besoknya sandal itu digantung seperti bendera oleh pemilik tebu.

Di matanya, jalan kebenaran dapat ditempuh melalui jembatan agama, ilmu, dan kesenian. Seniman itu memiliki pemikiran yang bebas. Kalau setuju ya setuju, kalau enggak setuju ya bilang tidak setuju. Jiwa seni mengalir dalam dirinya tanpa ia sadari. Mulanya, semasa kanak-kanak, ia sangat menyukai hal-hal yang bersentuhan dengan keindahan dan kesenangan. Meski prestasinya tak bagus-bagus amat, guru SMP-nya mengakui tulisan dan gambarnya bagus. Ia disarankan gurunya memilih arsitektur. Ia ikuti nasehat gurunya itu. Setamat SMA ia masuk ke jurusan arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM), trendsetter saat itu. Minimal saya sudah mengikuti harapan orang tua.

(dokumentasi: tempo.com/ kabarebralink.com)

Lulus dari Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1969, sebagai angkatan pertama, Eko Budihardjo nyaris tidak pernah mendesain bangunan sendirian, sesuai dengan pendidikannya. Tarikan menjadi seorang pengajar dan menekuni bidang perencanaan kota dan wilayah justru lebih kuat. Dan, itulah jalan hidupnya.

Saat beliau lulus, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Udayana, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang membutuhkan dosen, beliau berpikir jika menjadi dosen di UGM akan dibawah bayang-bayang dosen. Di Udayana, mana ada rektornya yang bukan orang Bali. Akhirnya beliau memutuskan untuk memilih Undip. Bahkan, saat itu sebelum prof Eko lulus sudah menjadi asisten dosen di Undip, sehingga tidak perlu praktik lagi sebagai arsitek atau mendirikan konsultan.

Ketertarikan prof Eko menjadi pengajar lantaran ayahnya, Tedjo Hadisumarto, adalah seorang guru. Eko menyadari panggilan hidupnya memang menjadi pengajar. Namun, meski tak membuka biro konsultan arsitektur, bersama dengan sejumlah koleganya ia terlibat dalam Yayasan Arsitektur Semarang. Di yayasan ini ia masih berkesempatan menerapkan arsitektur yang ditekuninya. salah satu karya beliau adalah mendesain Pengadilan Tinggi Jawa Tengah, Perpustakaan Undip, dan Pusat Kegiatan Mahasiswa Undip.

Perjalanan hidup Eko kemudian tersedot ke arah perencanaan kota. Ia bukan lagi mendesain bangunan, melainkan merancang tata perkotaan. Oleh karena pada era 1970-an mulai banyak kota yang tumbuh di negeri ini. Akhirnya Eko pun memutuskan lebih menekuni bidang perencanaan kota dengan mengambil Pasca Sarjana Planologi di University of Wales Institute of Science and Technology, Cardiff, Inggris. Ia menjadi lulusan pertama dari Indonesia di universitas itu untuk master of science (MSc) bidang town planning (perencanaan kota). Peluang berkecimpung di bidang perencanaan kota saat ia kembali ke Tanah Air tahun 1978 kian terbuka karena setiap kota harus mempunyai perencanaan kota, master plan (rencana induk).

Beliau berpikir bahwa sebetulnya perencanaan kota termasuk disiplin ilmu yang relatif baru. Prof Eko menjadi bagian dari pendiri dan perintis Jurusan Planologi di Undip. Kota kita dirancang dengan terlalu banyak orientasi pada bidang fisik. Tata guna lahan dan jaringan jalan yang terlalu diperhatikan. beliau berpikir bahwa ini kesalahan terbesar. Community planning tidak diperhatikan. Padahal, dalam membangun kota semestinya manusia yang didahulukan. Bukan hanya perencanaan di bidang fisik, melainkan memikirkan pula perencanaan masyarakatnya (community planning) serta perencanaan ekonomi, sosial, dan budaya kota. Selama ini, jika dalam kota tak ingin dilalui truk besar, ya, langsung dibikin jalan lingkar. Tidak pernah ada, misalnya wawancara dengan penduduk, mengenai apa yang mereka butuhkan. beliau merasa saat ini ilmuwan yang menjadi konsultan perencanaan kota dinilainya terlalu elitis, teknokratis, dan birokratis. Bahkan, tak sedikit yang orientasinya proyek misalnya, untuk kota yang tak ada pantainya, rencana induknya ditulis pantai harus dijaga. Acapkali rencana induk suatu kota hanya asal mencomot dari kota lain.

(dokumentasi: suaramerdeka.com/kabarebralink)

Walaupun demikian, Eko berkeyakinan tak ada yang terlambat. beliau berpikir bahwa Kota itu ibarat jasad hidup. Mau jadi kurus atau gemuk, itu masih bisa. Masih bisa dikoreksi. Sistem sisten (siapa)-nya yang penting. Sumber daya manusia jadi kuncinya. Persoalannya, masih ada dinas tata kota yang dipimpin bukan oleh orang perencanaan kota, melainkan dari teknik elektro, teknik mesin,

Dalam perjalanan hidup Guru Besar UNDIP dan mantan Ketua Rektor UNDIP ini sangat berpegang teguh pada prinsip prinsip kehidupan yang diajarkan oleh orang tuanya. Baginya orangtua adalah teladan. Ia patuhi benar nasehat mereka. Hidup harus sing sujud karo pangeran (harus berbakti kepada Tuhan). Sing bekti karo wong tuwo (harus berbakti kepada orangtua). Sing rukun karo sedulur (rukun dengan saudara). Sing asih karo sopo podo (mengasihi sesama). Dan ojo dadi wong kang iren lan sraten (jangan jadi pengiri dan pendengki). Bila dipakai kaidah ini hidup bakal lancar, walaupun yang menentukan akhirnya pelaksanaannya.

Di antara karyanya yang berjumlah 22 buku itu, ada dua buku yang ia anggap paling penting baginya yang ditulis dalam bahasa Inggris: Architectural Conservation In Bali dan Presentation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia. Kedua karya ini menjadi bacaan wajib mahasiswa S2 Arsitektur. Buku ini menjadi sebuah kebanggaan beliau karena karyanya diapresiasi dunia arsitektur. Meski dengan prestasi menggunung dan kesibukan setumpuk, toh ada yang membuatnya khawatir. Ia selalu memikirkan nasib anak cucunya, dahulu kita bangga menjadi bangsa Indonesia, sekarang sesama sebangsa saling bertarung, lantas besok bagaimana nasib kita yang secara ekonomi ambruk, secara politis kacau balau? Dalam kegelisahan beliau masih bisa tersenyum, sebab apa yang telah ia capai melebihi dari yang ia inginkan. Dan anak-anaknya sudah berprestasi melampaui apa yang ia raih saat seumur mereka.

Dalam kehidupan tidak ada yang abadi, ada pertemuan pasti ada perpisahan, kabar sedih muncul dari dunia pendidikan dan arsitektur, Prof. Eko Budihardjo sakit dan harus menginap Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi SemarangEko yang menjabat sebagai rektor pada periode 1998-2006 itu akhirnya tutup usia Selasa, 22 Juli 2014, sekitar pukul 21.30 WIB. Tentu hal ini menjadi kabar duka bagi masyarakat Jawa Tengah karena tak ada lagi tulisan beliau yang selalu muncul di surat kabar dikabar Jawa Tengah dan nasional, keramahan beliau serta puisi segar dari pemikirannya. Beliau meninggalkan seorang istri, Sudanti Hardjohoebojo, dan dua anaknya, yakni Arehta Aprilia dan Holy Ametati. Jasad beliau akhirnya dimakamkan di Makam Keluarga Undip, Tembalang.

Terimakasih Prof…. Semoga Khusnul Khotimah kami pemuda Purbalingga memiliki semangat kuat untuk mengikuti jejak langkahmu.


(DAR/ Kabare Bralink)





Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis