Headlines News :
purbalingga
Home » » Uniknya Bahasa Ngapak Ini, Membuat Dialek Ngapak Terkenal

Uniknya Bahasa Ngapak Ini, Membuat Dialek Ngapak Terkenal

Written By Kabare Bralink on Thursday, April 28, 2016 | 3:10 PM

PURBALINGGA – Sebagai warga Purbalingga, Banyumas, Banjarnegara, Cilacap, Gombong, Tegal, Brebes, Kebumen dan sekitarnya, kita masih menggunakan bahasa ngapak. Meski bahasa tersebut nyaris punah karena para penerus/generasi muda jarang menggunakan bahasa yang menjadi simbol orang Banyumasan. Padahal, bahasa ngapak tersebut merupakan bahasa yang daerah yang harus dilestarikan oleh masayarakat, khususnya warga Banyumasan.


Sesuai yang dilansir oleh liputan6.com, Bahasa ngapak terkenal dengan logat medhok yang khas. Dialek ngapak dipopulerkan oleh selebritas dari daerah ngapak semisal pelawak Parto, atau juga oleh para pelaku usaha kuliner warung Tegal yang tersebar di berbagai daerah.

Dialek ngapak bisa dikenali antara lain dari pengucapan akhir kata dengan tegas, terutama jika diakhiri dengan huruf 'k'. Dengan dialek ini, ujaran bahasa Indonesia pun bisa di-ngapak-kan, misalnya baris yang pernah populer, “Oke lah, kalau begitu.”

Menurut Eko Gunanto yang ditelepon oleh tim liputan6.com, mengatakan, bahwa bahasa ngapak lebih tua dari bahasa Jawa lainnya.

Konon bahasa ngapak lebih tua dibandingkan rumpun bahasa Jawa lainya. Bahasa ngapak lebih dekat dengan bahasa sansekerta yang banyak berakhiran 'a' bukan 'o'. Kalau bahasa Jawa lain kan banyak yang pake 'o',” jelas Eko Gunanto kepada wartawan liputan6.com.

Dia mencatat beberapa kata, istilah, atau frasa bahasa ngapak sudah populer bahkan me-nasional. Istilah inyong misalnya, banyak yang paham bahwa itu pengganti kata saya dalam bahasa ngapak. Kebalikannya rika yang artinya kamu. Ada juga kencot, yakni lapar.

Sering banget dipakai,” kata Gunanto. Setelah kencot, kegiatan yang dilakukan adalah badhog atau makan.

Bahkan Eko Gunanto menambahkan, bawah Purwokerto, ada jalan dengan banyak tempat makan di sepanjang GOR Satria dinamakan Jalan Badhogan. Di Purbalingga, tepatnya di Kelurahan Bancar, ada pasar jualan jajanan dinamakan Pasar Badhog.

Sekarang malah diberi nama Bancar Badhog Center (BBC),” jelasnya.

Dan masih banyak istilah-istilah lain dalam bahasa ngapak yang sudah populer. Seperti
kepriben artinya bagaimana. Biasa untuk pertanyaan semacam 'kepriben si Son?' artinya 'bagaimana sih, Bro?'. Padanan kata kepriben itu kepriwe atau keprimen.

Ada juga dablongan artinya lawakan atau guyonan. Di media lokal Kabarebralink, ada rubrik Dablongan dengan bahasa ngapak.

Salah satu kegiatan kita nguri-uri bahasa ngapak adalah dengan membuat rubrik itu. Silahkan dibaca sambil ngakak,” kata Gunanto yang menjadi pemimpin redaksi media tersebut.

Selain itu, dalam bahasa pergaulan ada kata cempulek, atau sering diknal jebul. Istilah ini sering dipakai bersama owalah.

Owalah, cempulek jebul kaya kue rika?! artinya owalah, ternyata seperti itu kamu?!,” jelas Gunanto.

Untuk orang yang matanya jelalatan, penutur bahasa ngapak menyebutnya pecicilan.

Misalnya matamu aja mecicil' artinya matamu jangan jelalatan atau melotot,” jelas Gunanto.

Tapi pecicilan bisa berarti grusa-grusu, sembarangan, padanannya penjorangaan alias sembarangan. Pecicilan dalam arti berperilaku ugal-ugalan padanannya pethakilan yang berarti nakal, banyak tingkah. Frasa ngapak yang juga banyak dipakai adalah babar pisan atau babar blas, artinya sama sekali.

Gunanto juga menambahkan, budaya ngapak juga menggenggam nilai dan norma, termasuk nilai norma kepantasan. Jika ada orang yang berperilaku melanggar nilai dan norma, ada baris teguran atau peringatan yang terdengar akrab, aja kaya kue, jangan seperti itu.


(Kabare Bralink/Liputan6)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis