Headlines News :
purbalingga
Home » , , » 'Festival Gunung Slamet' Menjunjung Kearifan Lokal untuk Lestarikan Lingkungan

'Festival Gunung Slamet' Menjunjung Kearifan Lokal untuk Lestarikan Lingkungan

Written By Kabare Braling on Friday, October 14, 2016 | 9:05 AM

PURBALINGGA – Tembang Jawa Dhandang Gulo berkumandang di Dukuh Kaliurip Gunung, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Kamis (13/10) pagi. Tembang itu mengawali prosesi pengambilan air di sumber mata air Sikopyah pada rangkaian Festival Gunung Slamet (FGS) ke-II. Makna dari tembang itu menggambarkan kehidupan warga yang hidup rukun, tenteram dan damai. Kehidupan warga tidak terlepas dari air kehidupan yang berasal dari mata air di bawah kaki Gunung Slamet itu.

Kawitane Dusung Serang Iki
Mapan Aning tlatah Karangreja
Sengkup Poro warga kabeh
Sedoyo sami rukun
Nuju Purbalingga kang aji
Ugo podho raharjo
Tentrem lan minulyo
Katon podo samapto
Nglestari tuk suci Sikopyah iki
Mugo bagyo lan mulyo

Sebelum prosesi pengambilan air Si Kopyah, ribuan warga berkumpul di sekitar Mesjid di dukuh itu. Para pembawa lodhong (tempat air dari bambu) yang terdiri dari para ibu-ibu, remaja putri dan para pemuda telah bersiap. Setalah didoakan oleh sesepuh desa setempat, para pembawa lodhing yang berjumlah 777 orang menuju mata air Sikopyah yang berjarak sekitar 1,2 kilometer dari dukuh itu. Dengan melewati jalan setapak di areal tanaman sayuran, mereka tampak bersemangat. Saking banyaknya pembawa lodhong, prosesi pengambilan air itu memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Setelah air diambil, mereka kembali turun menuju mesjid selanjutnya menuju balai desa. Air dalam lodhong itu disemayamkan hingga Sabtu (15/10) besok untuk dibawa ke kawasan wisata Lembah Asri yang juga berada di desa tersebut. Jarak dari titik pemberangkatan menuju balai desa lumayan jauh, mencapai 3 kilometer. Para pembawa lodhong tanpa menggunakan alas kaki, tetap bersemangat dan tak ada satupun yang pingsan.


Saya sungguh senang bisa terlibat langsung dalam kegiatan Festival Gunung Slamet. Meski harus berjalan cukup jauh, tapi tidak ada rasa capek sekalipun,” ungkap Narti (19), warga setempat.

Iringan pembawa lodhong diikuti ribuan warga lainnya yang membawa nasi penggel. Nasi jagung itu disebutnya sebagai nasi trigi, karena berisi tiga jenis lauk dan sayur yakni sayur oseng pepaya, tempe goreng, dan ikan asin. Setelah berkumpul di balai desa, warga pembawa lodhong dan pembawa nasi Penggel menikmati makan bersama. Para wisatawan yang berkunjungpun ikut berbaur menikmati nasi penggel tersebut.

Prosesi pengambilan air dengan 777 lodhong bambu dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan MURI diterima oleh Bupati Purbalingga Tasdi yang didampingi wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, dan kepada Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Subeno, selaku penyelenggara pengambilan air tersebut.

Kearifan lokal warga masyarakat yang selalu menjaga sumber mata air kehidupan dan melestarikan lingkungannya, kami kemas dalam sebuah prosesi yang menarik dalam rangkaian Festival Gunung Slamet,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga Drs Subeno, SE, M.Si.

Menurut Subeno, FGS yang digelar untuk kali kedua ini, selain melestarikan tradisi warga dalam ruwatan agung, juga untuk mengangkat citra pariwisata Purbalingga khususnya di Desa Wisata Serang. 

“Setelah FGS I digelar tahun lalu, kunjungan wisatawan ke desa Serang naik hingga 400 persen. Ini tentunya memberikan dampak ekonomi warga masyarakat dan tentunya mengangkat citra Purbalingga sebagai kota wisata,” katanya.

Bupati Purbalingga Tasdi dalam kesempatan tersebut mengapreasi kegiatan Festival Gunung Slamet ke-II ini. Selain untuk melestarikan tradisi masyarakat, FGS juga membangkitkan semangat warga untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung perkembangan sektor pariwisata. Tasdi berjanji akan terus menggerakan pembangunan Purbalingga termasuk dalam hal budaya dan wisata.

Saya berharap FGS tahun depan semakin meriah, dan saya akan membantu seragam bagi warga yang terlibat. Paling tidak baju dan kain jaritnya seragam, akan saya siapkan 1.000 stel,” janji Tasdi.

Rangkaian FGS II dimulai pada Kamis (13/10) dengan ritual pengambilan air Tuk Sikoptah, ritual Nyidhuk banyu, estafet ngisi banyu, epersemayaman air Si Kopyah, dan pada malam harinya pagelaran wayang kulit. Kemudian pada Jumat (14/10) ini digelar perang buah tomat dan stroberi di rest area Lembah Asri Serang mulai pukul 08.00, kemudian parade band dan lomba lukis di alun-alun Purbalingga, serta pada Jumat sore parade seni sembilan kabupaten se-Barlingmascakeb Pekalongan.

Selanjutnya, pada Sabtu (15/10) mulai pukul 10.00 kegiatan dipusatkan di rest area Serang Karangreja berupa kirab air Si Kopyah dan hasil bumi, ruwatan agung, rebutan tumpeng dan hasil bumi. Pada Sabtu malamnya digelar Jazz diatas Gunung dengan bintang tamu Isyana Saraswati.


(Kabare Bralink/Wisata)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis