Headlines News :
purbalingga
Home » » Menghadapi Era Digital, Guru Agama Harus Cekatan dan Tanggap Akan Media

Menghadapi Era Digital, Guru Agama Harus Cekatan dan Tanggap Akan Media

Written By Kabare Braling on Friday, November 25, 2016 | 4:26 PM

PURBALINGGA – Era digital yang mengakibatkan globalisasi dan keterbukaan informasi mengharuskan para guru agama tak lagi kaku dalam mengajarkan pendidikan keagamaan, namun harus lebih fleksibel dan mampu mengajarkan keagamaan dengan berbagai disiplin ilmu. Dunia yang terbuka menjadi tantangan utama pendidikan agama dalam dunia global.

Guru agama tak boleh telmi (telat mikir-red). Tetapi harus mampu mengikuti perkembangan zaman sehingga pendidikan keagamaan yang diberikan kepada anak didik mampu menjawab tantangan moralitas di era digital,” kata Dr. Abdul Mu’ti M.Ed, Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dalam Seminar Pendidikan Keagamaan dalam rangka HUT PGRI dan Hari Guru nasional di Pendapa Dipokusumo, Kamis (24/11).

Menurut Abdul Mu’ti, di era digital saat ini menjadikan anak anak sekarang semakin kritis. Mungkin saja seorang anak SD kemudian mengajukan pertanyaan kritis, kenapa poligami diperbolehkan tapi poliandri dilarang. Atau pertanyaan-pertanyaan kritis lainnya yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan oleh para guru.

Sekarang bagaimana guru agama bisa menjawab berbagai realitas beragama itu tidak tunggal. Bahwa orang beragama itu tidak hanya di Indonesia saja. Dan kemungkinan mereka akan tinggal di Negara yang sama sekali tidak dibayangkan. Itulah tantangan pendidikan keagamaan di era moralitas masyarakat yang makin longgar,” jelasnya.

Pada kesempatan itu Abdul Mu’ti menyarankan agar guru agama mampu memberikan pendidikan keagamaan minimal dengan tiga kriteria, Yakni dengan memberikan materi yang bersifat sempit tetapi mendalam.

Maksud saya begini, materinya tidak usah banyak-banyak tetapi perspektifnya yang diperbanyak. Kajiannya harus lebih banyak. Sehingga guru harus bisa menjelaskan materi dalam penjelasan yang multidisipliner. Dia bisa menjelaskan agama dari segi ilmu agama, ilmu sosial, ilmu eksakta, bahkan dengan realitas-realitas dunia yang dekat dengan murid itu,” katanya.

Yang kedua, lanjutnya, guru harus bisa menguasai teknologi dan menggunakanya secara sengaja. Dia mencontohkan kalau seorang guru agama mengajar bacaan Al Quran dan bacaanya tidak bagus kemudian anak didiknya mempunyai murottal di HP-nya, maka guru agama itu sudah kalah set dengan HP.

Pilihanya ada dua, guru agama itu memperbaikai bacaan Al Qurannya atau pakai saja teknologi itu untuk mengajarkan agama. Dengan rendah hati dikatakan mari kita sama-sama belajar dengan belajar murottal dari HP. Saya kira itu guru yang cerdas dan cerdik,” katanya.

Sehingga lanjut Mu’ti, guru memang harus menjadi pembelajar karena harus mampu menguasai teknologi itu.

Dia menambahkan, dalam kaitannya bagaimana kita menyikapi dunia digital, anak-anak kita juga harus diberikan orientasi untuk bisa meraih pekerjaan dengan pendidikannya. Diantara kenapa pendidikan agama dinomorsekiankan oleh murid, sebagiannya karena pendidikan agama tidak menjadi materi ujian nasional. Bahkan tidak bisa digunakan untuk melamar di dunia kerja.

Dalam menyikapi kondisi tersebut, Abdul Mu’ti mengajak para guru dapat memberikan anak didik dengan ketrampilan-ketrampilan. Berupa akademik skill yakni kemampuan untuk dia bisa belajar. Kemudian leadership skill atau kemampuan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan religious skill atau kompetensi keagamaan,” jelasnya.

Kompetansi keagamaan penting dilakukan sehingga anak didik mendapatkan dasar-dasar keagamaan yang kuat khususnya akidah, ibadah dan akhlakul karimah. Tanpa melupakan dengan memberikan ruang dimana mereka ini siap ketika melihat adanya perbedaan, siap terhadap adanya kenyataan baru dan siap ketika mendapatkan tantangan dari luar dirinya, baik orang seagama, orang beda agama atau orang yang tak beragama sekalipun.

Seminar dibuka oleh Asisten Pemerintahan R Imam Wachyudi SH MSi mewakili Bupati Purbalingga. Kegiatan itu diikuti semua guru agama di kabupaten Purbalingga. Sebelumnya pada Senin (21/11) juga digelar Seminar Pendidikan menghadirkan Dr Muhdi SH MHum Rektor Universitas PGRI Semarang. Puncak peringatan HUT PGRI ke 71 dan HGN tahun 2016, Jumat pagi ini (25/11) diselenggarakan upacara di Monumen Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman, Kecamatan Rembang.


(Kabare Bralink/Humas)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis