Headlines News :
purbalingga
Home » » Ternyata, Minyak Nilam Purbalingga Tembus Pasaran Taiwan dan Perancis

Ternyata, Minyak Nilam Purbalingga Tembus Pasaran Taiwan dan Perancis

Written By Kabare Bralink on Monday, February 13, 2017 | 1:44 PM

PURBALINGGA – Produk minyak nilam yang diproduksi para perajin dari Purbalingga mampu menembus Taiwan dan Perancis. Minyak nilai ini rata-rata masih diproduksi oleh industri rakyat dalam skala kecil. Selain pasokan ke luar negeri, secara rutin produk minyak nilam Purbalingga dijual ke Jakarta dan Bali.

Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, SE, B.Econ mengungkapkan, prospek industri minyak nilam ternyata sangat menjanjikan. Hanya saja, para petani belum banyak yang melirik untuk membudidayakan tanaman nilam. Padahal, tanaman nilam bisa ditanam di sela-sela tanaman pokok seperti Alba atau tanaman keras lainnya.

Setelah kami mengunjungi pabrik pengolahan minyak skala kecil di Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari, dan berdiskusi dengan perajin minyak nilam, ternyata hasilnya menjanjikan. Bahkan, para penyuling minyak nilam mengaku kekurangan pasokan bahan baku berupa nilam yang telah dipanen,” kata Wabup Tiwi, Kamis (9/2).

Wabup mengungkapkan hal tersebut disela-sela meninjau pabrik pengolahan minyak nilam milik Nuryanto di Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari. Wabup didampingi Asisten Pembangunan Ir Sigit Subroto, MT, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UKM) Drs Imam Sudjono, Kepala Dinas Pertanian Ir Lily Purwati, Camat Kutasari Raditya Widiyaka, dan Kabid Humas & Komunikasi Informasi Publik Dinas Kominfo, Ir Prayitno, M.Si.

Untuk memenuhi pasokan minyak nilam di sejumlah industri di Jakarta dan permintaan luar negeri, perlu perluasan tanaman nilam, dan juga dari sisi pasca panen perlu pembinaan pengolahan minyak nilam bagi para perajin. Perajin minyak nilam rata-rata masih dikelola oleh masyarakat, dan hasilnya dipasok ke Jakarta dan beberapa diantaranya ada pembeli yang datang langsung dan selanjutnya dikirim ke Taiwan dan Perancis.

Dalam hal budidaya tanaman nilam, seperti perlu sosialisasi lebih intensif ke masyarakat, sementara dari sisi pengolahan minyak nilam, perlu pengemasan yang menarik. Bukan dijual dalam wadah jerigen besar,” kata Wabup Tiwi.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Ir Lily Purwanti mengungkapkan, luas areal tanaman nilam mengalami penurunan. Semula luasan budidaya tanaman nilam mencapai 700 hektar, namun saat ini berdasar data yang masuk, luasannya mencapai 234 hektar. Dari luasan budidaya ini, mampu menghasilkan produksi nilam sebanyak 827,9 ton atau dengan produktivitas nilam per hektarnya 3,7 ton. Hasil jual tanaman nilai kering sebesar Rp 7500 per kilogram, sehingga setiap hektar budidaya tanaman nilam mampu menghasilkan Rp 27 juta.

Budidaya tanaman nilam sejatinya masih menjanjikan, dan budidayanya bisa sebagai tanaman tumpangsari. Sayangnya, para petani masih banyak yang tidak tertarik,” kata Lily Purwanti.

Lili menambahkan, tanaman nilam masih banyak dibudidayakan di wilayah Kecamatan Karangjambu, Karangreja dan Kecamatan Kutasari, serta sebagian lain di wilayah Kecamatan Rembang. Untuk tanaman nilam di Desa Cendana, Kecamatan Kutasari paling dikenal dengan angka rendemen yang bagus. “Sebagian besar petani mulai meninggalkan nilam karena kebanyakan tanaman itu mengalami serangan penyakit busuk pangkal batang.

Nuryanto (42), salah satu perajin minyak nilam di Desa Karangreja, Kecamatan Kutasari mengungkapkan, dalam setiap hari dirinya mampu mengolah nilam kering antara 400 hingga 800 kilogram. Setiap 100 kilogram nilam kering yang diolah mampu menghasilkan rata-rata 2 kilogram minyak. Produksi minyak ini tergangtung dari rendemen nilam kering. Produksi minyak nilam ini digunakan sebagai pengikat pembuatan parfum.

Minyak nilam yang kami produksi jenisnya terbagi dalam tiga jenis, masing-masing PTO (Patcholic), Black Piper dan Raja Guya. Harga untuk produk jenis minyak itu berkisar antara Rp 450 ribu hingga Rp 1 juta per kilogramnya,” kata Nuryanto.

Nur menambahkan, kendala yang dihadapi dalam memproduksi adalah pasokan nilam kering dari para petani. Pasokan terkadang tersendat karena terbentur musim hujan sehingga tidak bisa mengeringkan nilam dengan kadar rendemen tinggi. Selain itu, luasan tanaman yang semakin berkurang menyebabkan produksi nilam menjadi menurun. “Hasil minyak nilam berapapun mampu kami pasarkan, sayangnya produksi kami terkendala pasokan bahan baku berupa nilam kering,” tambah Nuryanto.


(Kabare Bralink/Dinkominfo)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis