Headlines News :
purbalingga
Home » , » Wong Alas di Pedalaman Hutan Purbalingga : Mitos atau Fakta?

Wong Alas di Pedalaman Hutan Purbalingga : Mitos atau Fakta?

Written By Kabare Braling on Monday, November 20, 2017 | 11:15 PM


Diskusi Wong Alas Di Pedalaman Hutan Purbalingga ( Dok. PPA Gasda)
Wong Alas atau Suku Pijajaran atau disebut juga sebagai Suku Carang Lembayung merupakan kisah turun temurun yang beredar di kalangan masyarakat sepanjang koridor pegunungan sebelah utara Purbalingga yang membentang dari Desa Gunung Wuled, Panusupan, Tanalum di Rembang, kemudian ke Desa Sirau dan Kramat di Desa Tunjungmuli  lalu di Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu dan Gondang, Kecamatan Karangreja hingga perbatasan dengan Desa Watukumpul yang masuk wilayah Kabupaten Pemalang.

Banyak versi kisah suku tersebut, juga berbagai persentuhan dengan mereka yang berkelindan antara legenda (folklore), mistis dan mitos sehingga keberadaan Wong Alas tersebut masih menjadi misteri hingga sekarang. Kabut masih menyelimuti mereka yang mengundang penasaran khalayak. Mereka ini hanya sekedar mitos berbalut mistis belaka atau fakta yang benar adanya?

Itulah yang coba didiskusikan tadi malam, Minggu, 19 November 2017 di Aula Kedai Kebun, Purbalingga. Berbagai elemen masyarakat, seperti, pecinta alam, budayawan, akademisi, birokrasi, pemerhati dan masyarakat lainya berbagi pengalaman, testimoni dan pengetahuan untuk menyibak kabut keberadaan Wong Alas di pedalaman hutan Purbalingga. Diskusi berlangsung gayeng sampai larut malam yang dipandu oleh Direktur Institut Negeri Perwira, Indaru Setyo Nurprojo.

Suasana Diskusi (Dok PPA Gasda)
Kisah yang umum beredar, asal muasal legenda Suku Pijajaran tak bisa lepas dari Syekh Jambu Karang.  Ia tadinya adalah bangsawan dari Kerajaan Pajajaran bernama Raden Mundingwangi yang menyepi sampai ke wilayah Pegunungan Ardi  Lawet. Rombongan mereka bertemu dengan Syekh Atas Angin, seorang penyebar agama Islam dan terjadi adu ilmu kesaktian. Raden Mundingwangi kemudian kalah dan menyatakan diri masuk Islam serta berganti nama menjadi Syech Jambu karang.  Namun, ada sebagian rombonganya yang tidak mau mengikuti keyakinan baru pimpinannya itu dan memilih untuk tetap menetap di hutan belantara. Inilah yang menjadi Suku Pijajaran atau Wong Alas tersebut.

Saat ini, petilasan Syekh Jambu Karang ada di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang dan menjadi salah satu obyek wisata religius yang banyak dikunjungi peziarah. Namanya juga diabadikan menjadi salah satu nama jalan utama di sekitar alun-alun Purbalingga. Sementara, Makam Syekh Atas Angin juga ada di Desa Gunung Wuled, Kecamatan Rembang.

Berlatar cerita tersebut, masyarakat di sekitar pegunungan Ardi Lawet meyakini keberadaan mereka hingga kini. Namun mereka dinilai bukanlah manusia biasa seperti kita, melainkan manusia yang memiliki kelebihan khusus. “Suku Pijajaran disebut manusia setengah harimau dan memiliki berbagai kemampuan supranatural sehingga masyarakat menghormatinya dan enggan untuk bersentuhan dengan mereka. Saya meyakini mereka itu ada, akan tetapi tidak seperti kita,” kata pemerhati Sejarah Purbalingga, Catur Purnawan.
Ciri fisik Suku Pijajaran, keta Catur, seperti manusia biasa. Hanya saja mereka tidak memiliki tumit atau cenderung berjalan jinjit dan tidak memiliki ‘gumun’ alias lekukan dibawah hidung.

Catur, yang leluhurnya berasal dari Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu juga mengaku sudah pernah berada di perkampungan Wong Alas. “Saya pernah berada disana tetapi kemudian setelah keluar berubah menjadi hutan belantara lagi, Katanya.

Persentuhan dengan Wong Alas

Fariz, warga Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol masih ingat betul kejadian sekitar 5 tahun silam. Ia dan rombonganya dicegat orang yang tidak dikenal saat melintasi hutan. Mereka meminta seekor ayam yang dibawanya. “Kami sampai rebutan ayam dengan mereka,” katanya. Rombongan orang tersebut, kata Fariz, memiliki ciri-ciri yang sama dengan manusia biasa hanya berpakaian seadanya dan tidak banyak bicara.

Beberapa waktu kemudian, Ia bertemu dengan mereka tiga tahun kemudian di desa dan sesepuh desa menyebut mereka sebagai Wong Alas. “Jadi, dua kali saya bertemu dengan mereka, menurut sesepuh desa mereka Wong Alas dan dipimpin oleh seseorang bernama Cawing Tali, ” katanya.

Kris Hartoyo Yahya, politisi yang juga aktivis lingkungan juga tak bisa melupakan kejadian tahun 1999. Saat itu, Ia baru saja pulang seusai melakukan kegiatan politik di Desa Sirau dan sekitarnya. Nahas, waktu sudah tengah malam, mobilnya mogok ditengah jalan.
“Akses jalan dari dan ke Sirau tahun itu masih sangat jelek, mobil saya 4 WD mogok ditengah jalan. Tiba-tiba ada serombongan orang yang menolong untuk mendorong mobil saya. Setelah lepas dari jalan dan mobil bisa dihidupkan kembali, mereka pergi begitu saja,” katanya.

Ia tidak yakin bahwa mereka adalah warga sekitar. “Saat itu sudah jauh dari perkampungan, saya rasa mereka bukan warga sekitar. Komunikasi yang terjadi antara kita juga minim. Mereka membantu tanpa pamrih. Saya ucapkan maturnuwun, mereka membalas sekedarnya lalu pergi begitu saja,” katanya.

Lalu, Apakah mereka wong Alas? “Saya tidak begitu memperhatikan, namun saya rasa bukan warga sekitar,” ujar Kris yang juga Direktur Puspahastama, Perusahaan Daerah yang menangani soal pangan.

Taufik Katamso, sesepuh Perhimpunan Pecinta Alam (PPA) Gasda yang sejak tahun 1998 telah mengumpulkan berbagai macam informasi mengenai keberadaan mereka mengungkapkan memang banyak laporan mengenai perjumpaan dengan Wong Alas. Penduduk Dusun Karanggintung, Desa Panusupan seringkali kedatangan tamu mereka. “Biasanya mereka datang untuk meminta makan atau rokok,” katanya.

Wong Alas, kata dia, tidak mengenal kulonuwun (permisi) sehingga akan masuk jika ada rumah warga yang pintunya terbuka. “Ini yang sering kali mengangetkan penduduk, mereka tiba-tiba ada di rumah,” katanya. Bahkan, ada cerita salah satu Wong Alas perempuan yang masuk ke rumah, menggendong balita berumur 2 tahunan yang ditinggal ibunya ke dapur. Wong Alas tersebut akhirnya diterima oleh tuan rumah dan menjadi pengasuh balita itu meskipun hanya selama dua minggu.

Kemudian, Ia juga menceritakan Wong Alas sudah mulai memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan primernya melalui barter dengan warga sekitar. “Ada serombongan Wong Alas yang menjual kain belacu dan lalu membeli sabun cuci. Ketika ditanya untuk apa, mereka menjawab untuk mencuci rambut,” katanya.

Taufik juga menambahkan ada Wong Alas remaja bernama Gimin yang sempat menjadi tukang cuci piring di warung warga sekitar untuk sekedar mendapatkan makan.
Lalu apakah terjadi regenasi Wong Alas? Taufik juga menceritakan ada perjumpaan warga dengan anak-anak yang diduga Wong Alas. Ada cerita warga pencari sarang semut yang bertemu dengan anak-anak yang tengah mencari laba laba air dan kepiting di sungai kecil di tengah hutan. “ketika dipanggil mereka lari dan masuk ke dalam hutan. Warga meyakini mereka bukanlah anak-anak dari desa sekitar,” katanya.

Dengan berbagai cerita perjumpaan tersebut, Taufik meyakini bahwa mereka merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan Purbalingga. Mereka memenuhi struktur masyarakat karena terdiri atas laki-laki, perempuan dan ada juga yang masih remaja, bahkan anak-anak. Mereka juga hidup berkelompok, Ia mengidentifikasi setidaknya ada 2 kelompok Wong Alas yang ada di pedalaman hutan Purbalingga. Pertama, Kelompok pimpinan Cawing Tali dan Minarji seperti yang dijumpai oleh Fariz, dan Kelompok San Klonang.

Masyarakat sekitar hutan juga seringkali berinteraksi dengan mereka. Akan tetapi, masyarakat menaruh hormat dan enggan untuk memberikan informasi kepada khalayak luas karena takut akan hal-hal mistis dan mitos yang menyelimuti mereka. “Masyarakat khawatir mereka terganggu dan terkena malapetaka jika mereka marah, sehingga enggan membagi informasi tentang mereka,” katanya.

Suatu ketika, di Dusun Tundagan, Desa Watukupul pernah ada salah satu Wong Alas perempuan yang meninggal akibat makan umpan beracun untuk babi hutan. Pimpinan mereka yang dikenal dengan nama San Klonang kemudian marah dan mengancam warga. Esoknya, 35 ekor kambing milik warga ditemukan mati. “Hal seperti inilah yang mereka hindari sehingga enggan untuk bercerita mengenai Wong Alas, masyarakat tidak mau merusak harmoni dengan mereka,” katanya.

Gunanto Eko Saputro, lulusan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor juga menilai jika Wong Alas alias Suku Pijajaran alias Suku Carang Lembayung kemungkinan besar merupakan masyarakat yang tinggal di pedalaman hutan Purbalingga. “Jika mencermati ciri-ciri, perjumpaan dan interaksi yang terjadi dengan masyarakat sekitar hutan, kemungkinan besar mereka memang komunitas yang tinggal di pedalaman hutan Purbalingga,” katanya.

Pria yang menyelesaikan master di Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman itu menilai berbagai informasi dan testimoni masyarakat menunjukan bahwa mereka manusia biasa. “Ada yang sampai ‘magang’ menjadi tukang cuci piring, mengasuh balita dan membeli sabun cuci untuk mencuci rambut, saya pikir ini aktivitas manusia biasa, bukan manusia jadi-jadian atau jin,” katanya.

Hutan Koridor Siregol yang diduga menjadi hunian mereka juga masih relatif terjaga. Perbukitan tersebut yang sering disebut sebagai Amazonya Purbalingga itu memiliki hutan yang masih alami dengan berbagai tebing curam yang jarang dijamah manusia. “Bisa jadi mereka tinggal dikawasan tersebut, mungkin masih ada tempat tersembunyi atau gua yang bisa menjadi tempat tinggal mereka, “ katanya.

Hutan Koridor Siregol, Amazonya Purbalingga (www.swaraowa.com)
Lebih lanjut, Gunanto menilai asal muasal Suku Pijajaran mirip dengan Suku Baduy dan Kasepuhan yang ada di pegunungan Kendeng dan Halimun Jawa Barat. “Asalnya kok ya kebetulan sama, dari kerajaan Pajajaran yang menyingkir dan kemudian menjadi komunitas di pedalaman hutan,” kata Gunanto yang pernah meneliti Masyarakat Adat Kasepuhan Cibedug di Pegunungan Haimun untuk skripsinya.

Oleh karena itu, kata dia, menjadi bukan kebetulan jika banyak nama tempat ‘berbau’ Sunda disekitar Ardi Lawet yang diduga menjadi wilayah Suku Pijajaran. Ada Sungai Kahuripan (kehidupan), Sungai Ideng atau Hideung (Hitam) dan Gunung Cahyana (cahaya), Dukuh Tundagan (menunda).

Ekspedisi

Untuk menyingkap berbagai misteri tersebut, Camar Rembang Suroto yang ikut hadir dalam diskusi tersebut mengusulkan ekspedisi atau penelitian secara komprehensif melibatkan berbagai stakeholder. “Selama ini belum ada bukti otentik mengenai keberadan mereka, saya pikir jawabanya harus dengan ekspedisi,” katanya.

Menurutnya, dalam ekspedisi tersebut harus ada antropolog, arkeolog, sejarawan dan juga ahli lainya yang terkait serta tak lupa ahli yang mengetahui kehidupan metafisik agar kabut keberadaan Suku Pijajaran bisa tersingkap.

Iqbal Fahmi, anggota PPA Gasda juga mendukung ekspedisi sebagai jawaban atas misteri Wong Alas. Namun, Iqbal menekankan pentingnya kehati-hatian dalam ekspedisi tersebut. “Kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik. Setelah mereka diketahui lalu apa?,” katanya.

Menurutnya, setelah terungkap, mitos maupun fakta nantinya, mereka dan kawasan hutan yang menjadi hunianya harus dilindungi dengan baik. Sementara saat ini, status kawasan yang diduga menjadi hunian mereka masih berupa hutan produksi di bawah Perum Perhutani yang sewaktu-waktu bisa berubah.

Lebih lanjut, kawasan hutan  di zona serayu utara itu juga menjadi sedikit kawasan hutan alami yang masih tersisa di Purbalingga. Kawasan hutan tersebut menjadi habitat bagi Owa Jawa, Elang Jawa, Rangkong, Macan Kumbang serta diduga masih ada Harimau Jawa yang merupakan spesies langka dilindungi. “Ada atau tidak ada Wong Alas, kawasan tersebut tetap harus dilindungi. Jika perlu ditetapkan menjadi kawasan konservasi dengan peraturan yang lebih kuat,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai jurnalis tersebut.
Taufik Katamso juga menekankan untuk melakukan pendekatan kearifan lokal jika nantinya terbuka peluang interaksi dengan mereka. “Jangan dipaksakan mereka harus memenuhi standar kita. Biarkan mereka hidup dengan kearifan lokalnya dan hidup harmonis dengan alam,” katanya.

Untuk itu, memang perlu untuk mengetahui keberadaan mereka karena ancaman perubahan kawasan hutan sudah mulai terasa. Penebangan kayu dan fragmentasi hutan menjadi pemukiman, persawahan semakin nyata. Pemerintah desa dan pemerintah daerah setempat juga sudah mulai melirik untuk menjadi kawasan eko wisata. “Ini perlu diantisipasi agar kawasan hutan ini tetap lestari,” katanya.

Harapannya setelah semua terungkap adalah bisa dicapai kesepakatan bersama untuk menjaga kelestarian alam juga harmoni dengan semua mahluk yang menghuninya di dalamnya. Seperti disampaikan oleh Suku Pijajaran bahwa mereka ada sebagai penjaga. Salah satunya, tentu saja adalah penjaga kelestarian alam dan keseimbangan di dalamnya.

Salam Lestari, Lestari Hutanku, Lestari Alamku, Lestari Indonesiaku


NB : artikel ini juga dimuat di Kompasiana
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Copyright © 2011. Kabare Bralink - All Rights Reserved
Desain by Darmanto Theme by Mas Kolis